Makna Hari Sastra Tegalan

Catatan Maufur di rubrik ”Warung Poci Tegal” (SM, 19/11/12) menyebutkan 26 November adalah Hari Sastra Tegalan (HST). Penegasan itu mengundang pertanyaan karena banyak pihak menganggap keputusan itu muncul begitu saja, tak ada pijakan yang bisa dipertanggungjawabkan. Hal itu berbeda dari peringatan Hari Sastra Nasional tiap 28 April merujuk pada tanggal itu, tepatnya 28 April 1949, penyair besar Charil Anwar meninggal dalam usia 26 tahun.

”Keanehan” lain, penyelenggaraan kali pertama peringatan HST di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang tahun 2008, bukan di Tegal. Selama tiga tahun HST diperingati dengan melibatkan banyak pejabat dan tokoh. Penulis yang selalu terlibat dalam kegiatan itu bersepakat dengan teman-teman untuk menyimpan ”misteri” itu.

”Sastra Tegalan Ader Ana?” (terjemahan bebas dalam Bahasa Indonesia: ”Sastra Tegalan Memangnya Ada?”) adalah judul makalah penulis dalam diskusi sastra di salah satu stasiun radio di Slawi Kabupaten Tegal pada 7 Agustus 1994. Waktu itu, penulis senior Woerjanto menyajikan makalah bertajuk ”Menuju Sosok Sastra Tegalan”.

Diskusi ini berselang waktu 2 bulan setelah terbit buku Roa, kumpulan karya penyair Indonesia yang diterjemahkan dalam Bahasa Tegal. Semisal karya Rendra (”Nyanyian Angsa” yang dialihbahasategalkan menjadi ”Tembangan Banyak”), Taufik Ismail (”Kembalikan Indonesia Padaku”/ ”Balekna Indonesia Meneh”), Chairil Anwar (”Aku”, ”Doa”, dan ”Isa”/ ”Enyong”, ”Donga”, ”Isa”) dan banyak lagi.

Roa menginspirasi para penyair Tegal untuk menulis puisi, prosa, dan monolog dalam ”bahasa ibu”, yaitu Bahasa Tegal. Karya-karya itulah yang kemudian memperoleh label karya Sastra Tegalan. Tahun 1994-2000-an adalah tahun emas kehadiran Sastra Tegalan. Pada masa itu di Tegal terbit beberapa koran yang kemudian mati, antara lain Kontak, Porem, Literasi, Muara Sastra, dan Tegal-Tegal yang rutin menampilkan karya Sastra Tegalan.

Terbit pula sejumlah antologi puisi, antara lain ”Ruwat Desa” dengan penerbit Tegal-Tegal, 1998, ”Tembang Jiwangga” (Diah Setyawati/ DKT Tegal, 2002), ”Brug Abang” (Dwi Erry Santoso/ DKT Tegal, 2006), Ngranggeh Katuranggan” (Tegal-Tegal, 2009), ”Oreg Tegal” (Lanang Setiawan, 2011), dan ”Balada Asu” (Yayasan Pustaka, 2012).

Gairah Sastra

Pemkot Tegal mengapresiasi kemunculan Sastra Tegalan. Kongres I Bahasa Tegal yang diprakarsai Pemkot Tegal di Balai Kota pada 4 April 2006 juga menelurkan beberapa rekomendasi. Pertama; Bahasa Tegal difungsikan sebagai penguat identitas dan sarana ekspresi budaya. Kedua; Bahasa Tegal akan dikembangkan melalui kurikulum sekolah.
Ketiga; membentuk lembaga kajian dan pengembangan Bahasa Tegal. Keempat; memberikan penghargaan kepada anggota masyarakat yang menunjukkan karya berprestasi dan berdedikasi dalam memuliakan Bahasa Tegal. Hal ini yang kemudian menjadi legitimasi kegairahan sastrawan Tegal dalam berkarya menggunakan Bahasa Tegal.
Bahkan pada 31 Mei 2006, Wali Kota Tegal Adi Winarso, Ketua DPRD HA Ghautsun, anggota DPRD Hadi Soetjipto, dengan bintang tamu Bupati Tegal Agus Riyanto tampil adu baca puisi Tegalan.

Tanggal 30 Juni 2006 Bupati Agus Riyanto dan beberapa penyair Tegal membaca puisi Tegalan di Warung Apresisasi Bulungan Jakarta Selatan, dan mendapat apresiasi positif.

Masyarakat Kota dan Kabupaten Tegal rasanya perlu berkaca pada sejumlah capaian 6 tahun lalu tersebut. Sekarang, Wali Kota dan Ketua DPRD Tegal, serta Bupati Tegal, yang pernah mengusung dan memopulerkan Sastra Tegalan sudah berganti person. Kongres Bahasa Tegal pun hilang gaungnya.

Tapi masyarakat Tegal melihat belum satu pun butir rekomendasi itu yang terwujud, minimial terlihat embrionya.
Pegiat Sastra Tegalan tidak mungkin berharap karena pemimpin dan pemegang kebijakan di wilayah ini lebih disibukkan oleh urusan politik. Urusan sastra, lupakan saja. Ataukah ada yang berminat ”mengurusi?” (10)

(Suara Merdeka 26 Nopember 2012)

Iklan

About ccvcku

Hadi Utomo,Lahir di Kecamatan Subah ( Kabupaten Batang - Pekalongan) 26 Januari 1939. Sekolah Rakyat dibeberapa tempat,kemudian tamat SMP Negeri Brebes th.1954 dan SMA Bag.B/Negeri di Pekalongan yh.1958. Sempat kuliah di PTP (Perguruan Tinggi Publisistik) di Jakarta th.1960 selama beberapa tahun namun tidak tamat. Bekerja di pelbagai perusahan di Jakarta sampai tahun 1970.Kemudian pindah ke Palimanan (Kab.Cirebon) sebagai petani sampai tahun 1980. Tahun 1980 berpindah ke Tegal berganti profesi dibidang radio siaran swasta sampai sekarang. Sejak di SMA gemar menulis cerpen,puisi dan artikel.Tulisan-tulisannya banyak dimuat dimajalah dan surat kabar a.l.Kisah,Sastra,Horison,Merdeka,Abadi,Berita Minggu,Duta Masyarakat dll). Salah satu cerpennya dimuat di Kumpulan Cerpen Indonesia III (Gramedia ed.Setyagraha Hoerip,1986.Sampai sekarang masih giat menulis dibeberapa media lokal dan mengelola program radio sambil sesekali membuat jingle iklan dan lagu-lagu daerah Tegal. Motto Hidup : Berguna Sampai Tua

Posted on November 27, 2012, in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: