Bahasa Tegal sebagai Sarana Ekspresi Sastra Tegalan

1.Pendahuluan.
Terminologi dan Kronologi.
Istilah Sastra Tegalan sebenarnya baru dikenal selama kl.2 dasawarsa.Diawali ketika beberapa sastrawan (tepatnya) penyair Tegal menerjemahkan puisi-puisi dari penyair-penyair Indonesia kedalam bahasa Tegal pada th.1994 dan menerbitkannya dalam sebuah antoloji Tegalan bertajuk ROA.Kemudian puisi2 terjemahan tersebut diusung kepelbagai tempat dalam acara pembacaan puisi maupun musikali puisi.Disusul terbitnya beberapa tabloid di Tegal yang sangat getol mengangkat puisi Tegalan dan juga sempat menerbitkannya dalam beberapa buku antoloji.
Berbeda dengan Sastra Jawa yang telah memiliki tradisi panjang sejak abad 9 sebagai Sastra Jawa Kuno,Sastra Jawa Pertengahan dan Sastra Jawa Islam dan Sastra Jawa Modern bahkan sekarang populer menjadi Sastra Jawa Gagrak Anyar,maka sejarah Sastra Tegalan hanya bisa dilacak sepanjang 2 dasawarsa terakhir.Dalam kronologi ini boleh dikatakan awalnya Sastra Tegalan hanyalah sebuah sastra migrasi bahasa, dari bahasa Indonesia beralih ke Bahasa Tegal
Dari segi tatabahasa istilah Sastra Tegalan sebenarnya masih perlu dipertanyakan.Karena sebelumnya kita sudah mengenal istilah Satra Jawa,Sastra Sunda,Sastra Bali,Sastra Lampung dsb. sebagai ciri bahwa naskah sastra dimaksud menggunakan bahasa Jawa,bahasa Jawa,bahasa Bali, bahasa Lampung dsb.Setelah Kongres Bahasa Tegal I (4 April 2006),dan kita menerima bahasa Tegal sebagai sebuah eksistensi lingguistik, mengapa kita tidak lantas menggunakan istilah Sastra Tegal ?.Memang selama ini kita mengenal istilah lagu-lagu/seni Banyumasan,Dermayon,Cirebonan,Cianjuran dsb.(Catatan : Yayasan Kebudayaan Rancage,sebuah yayasan kebudayaan yang cukup berwibawa ketika memberikan Hadiah Rancage th.2011 kepada Sdr.Lanang Setiawan,menyebutkan dalam konsiderannya bahwa yang bersangkutan telah berjasa dalam membina dan mengembangkan bahasa serta sastra Jawa dialek Tegal dan bukan Sastra Tegalan atau Sastra Tegal. Kita juga pernah mengenal istilah Sastra Etnik ketika April 2010 di Yogyakarta diselenggarakan diskusi dan pertunjukan Sastra Etnik).
2.Bahasa Tegal yang Eksotis dan Dinamis.
Sebagai salah satu dari 700-an bahasa ibu yang ada di Indonesia,bahasa Tegal selama berabad-abad tumbuh dan berkembang dengan liar hanya sebagai sarana kumunikasi verbal dan hampir tidak pernah digunakan dalam wacana literasi dan pendidikan. Hal ini mengakibatkan pola-pola sintaksis dan tatabahasa yang menyimpang dan terjadinya banyak perubahan fonetis fonologis dan juga perubahan morphologis.
dadi →gadi //durung→hurung→gurung→urung//sinau→genau//rumasa→rumangsa
→pengrasa→prengasa→perngasa//wéké→wékéné→géné//èsih→ègin→tègin//ngro-
ngokna→ngringokna dsb.
Eksotisme bahasa Tegal ditandai dengan kayanya kosakata yang sulit dicari padan katanya dalam bahasa Indonesia. Bahasa Tegal juga banyak memiliki leksikon emotif ekspresif yang tidak dijumpai dalam bahasa lokal lainnya.
/mbandhil/mlanggrang/nyegrak/patingnjluwag/gonggoman/krèkèlan/kocolan/kepokoh /kesampluk/dadaha/mangseg/ngedrel/ketriwal/njubleg dsb.
kemresek,kemrusuk,kemrisik,kemrèsèk/medodod/njebrol/mecothot/nyelag/mèngsol/marab-marab/njekutrut/cebrik/njetathut/ngoncogi dsb.
Januk,januka,sanganuk,banuken,bulabula,kedimaha,kadehe,meyeg,doyong,nglethus,nglethis,nyigit,adalah sedikit dari ratusan leksikon yang belum berhasil saya terjemahkan dengan tepat
Hal-hal tersebut sudah tentu akan lebih memperkaya ekspresi Sastra Tegalan baik dalam penulisan puisi maupun narasi-narasi prosa dan drama.Sayangnya leksikon ekspresif tersebut seringkali hanya digunakan untuk bahan lawakan atau trik memancing tawa.
Sama halnya dengan bahasa Indonesia maka serapan bahasa asing tidak bisa dihindari oleh pengguna bahasa Tegal.Disamping adanya kreatifitas bahasa yang muncul dari jargon yang tidak ketahuan dari mana sumbernya.
kharim,padasan,pejaratan,nderes,wapèk,waplo,um (oom),jakwir,goceng,ceban dsb.
3.Ejaan dan Pengucapan.
Tidak diajarkannya Bahasa Tegal disekolah tentu saja menjadikan Bahasa Tegal tidak memiliki ejaan baku untuk penulisan fonem maupun vokal. Padahal Bahasa Tegal memiliki 20 fonem dan 6 vokal, diantaranya fonem d,dh, t, th, dan vokal a,i,u,e,é,è,
Sehingga kita harus membedakan penulisan t (pentil=mangga muda) dan th (penthil=puting susu) // d (godogan=tarik menarik) dh (godhogan=rebusan) // è (bèbèk=itik).// e (bebek =tumbuk) // dsb.
4.Sastra Tegalan dan Kendala Produktifitas.
Kondisi ketiadaan media yang bersedia membuka rubrik maupun mempublikasikan karya2 Sastra Tegalan menjadikan penulisan Sastra Tegalan menjadi stagnan. Sangat disayangkan sikap ketidak pedulian media lokal yang ada di Tegal dalam ikut serta memelihara dan mengembangkan Sastra Tegalan. Penulis Sastra Tegalan selama dua dekade hanya mencatat yang “itu-itu” saja. Terbitnya beberapa buku Sastra Tegalan juga tebatas hanya antoloji puisi dan hampir tidak ada kumpulan cerpen,novel maupun karya lainnya. Disamping juga tidak adanya regenarasi yang tumbuh dan mau menggeluti Sastra Tegalan dikalangan remaja dan pelajar.Hal ini patut disayangkan karena ketiadaan bacaan yang berbasis Sastra Tegal akan berakibat lebih cepatnya kepunahan bahasa ibu sebagaimana yang telah disinyalir oleh Unesco sejak beberapa tahun yang lalu.
5.Kongres Bahasa Tegal.
Kongres Bahasa Tegal I yang diprakarsai Pemkot Tegal pada 4 April 2006 di Tegal sebenarnya merupakan secercah harapan untuk mampu menumbuh kembangkan Sastra Tegalan. Beberapa rekomendasi yang sangat relevan adalah agar difungsikannnya bahasa Tegal sebagai penguat identitas dan kebanggaan masyarakat, dan juga sebagai sarana ekspresi budaya.Bahasa Tegal juga akan dipelihara dan dikembangkan melalui kurikulum sekolah. serta akan dibentuk lembaga kajian dan pengembangan bahasa Tegal.Dan yang lebih penting adalah pemberian apresiasi dan penghargaan kepada masyarakat yang menunjukkan karya berprestasi dan berdedikasi dalam memuliakan bahasa Tegal. Namun harapan tetap tinggal harapan. Enam tahun sudah berlalu namun tidak satupun rekomendasi yang direalisasikan oleh pemangku kebijakan yang terkait.
6.Penutup.
Peringatan Hari Sastra Tegalan yang diselenggarakan setiap tahun oleh para penggiat seni budaya di wilayah ini kiranya dapat menjadi sekoci penyelamat untuk tidak tenggelamnya perahu yang kita sebut sebagai Bahasa Ibu yakni Bahasa Tegal. Bahasa adalah karya tertinggi dari peradaban umat manusia. Bahasa bukanlah hanya sederet atau sekumpulan kosakata belaka.Bahasa adalah rumah kebudayaan dan ruang kesadaran bagi penuturnya. Ia menjadi sebuah tradisi panjang, dimana bersemayam ingatan kolektif tentang eksistensi sebuah komunitas.Setiap bahasa pastilah disusun sekata demi sekata selama ratusan tahun dan belasan abad oleh para leluhur. Dan Bahasa Tegal sebagai sarana ekspresi sastra Tegalan yang tengah kita peringati hari ini adalah sebuah bahasa yang unik,berbeda,dan berkarakter.Dirgahayu Sastra Tegalan.

(Naskah ini disampaikan sebagai makalah untuk
Diskusi Sastra Tegalan dalam rangka Peringatan
Hari Sastra Tegalan di Pendopo Ki Gede Sebayu Tegal,
Tanggal 26 November 2012.
Penulis adalah Penyusun Kabus Bahasa Tegal
tinggal di Adiwerna Kab.Tegal)

Iklan

About ccvcku

Hadi Utomo,Lahir di Kecamatan Subah ( Kabupaten Batang - Pekalongan) 26 Januari 1939. Sekolah Rakyat dibeberapa tempat,kemudian tamat SMP Negeri Brebes th.1954 dan SMA Bag.B/Negeri di Pekalongan yh.1958. Sempat kuliah di PTP (Perguruan Tinggi Publisistik) di Jakarta th.1960 selama beberapa tahun namun tidak tamat. Bekerja di pelbagai perusahan di Jakarta sampai tahun 1970.Kemudian pindah ke Palimanan (Kab.Cirebon) sebagai petani sampai tahun 1980. Tahun 1980 berpindah ke Tegal berganti profesi dibidang radio siaran swasta sampai sekarang. Sejak di SMA gemar menulis cerpen,puisi dan artikel.Tulisan-tulisannya banyak dimuat dimajalah dan surat kabar a.l.Kisah,Sastra,Horison,Merdeka,Abadi,Berita Minggu,Duta Masyarakat dll). Salah satu cerpennya dimuat di Kumpulan Cerpen Indonesia III (Gramedia ed.Setyagraha Hoerip,1986.Sampai sekarang masih giat menulis dibeberapa media lokal dan mengelola program radio sambil sesekali membuat jingle iklan dan lagu-lagu daerah Tegal. Motto Hidup : Berguna Sampai Tua

Posted on November 27, 2012, in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: