Monthly Archives: November 2012

Bahasa Tegal sebagai Sarana Ekspresi Sastra Tegalan

1.Pendahuluan.
Terminologi dan Kronologi.
Istilah Sastra Tegalan sebenarnya baru dikenal selama kl.2 dasawarsa.Diawali ketika beberapa sastrawan (tepatnya) penyair Tegal menerjemahkan puisi-puisi dari penyair-penyair Indonesia kedalam bahasa Tegal pada th.1994 dan menerbitkannya dalam sebuah antoloji Tegalan bertajuk ROA.Kemudian puisi2 terjemahan tersebut diusung kepelbagai tempat dalam acara pembacaan puisi maupun musikali puisi.Disusul terbitnya beberapa tabloid di Tegal yang sangat getol mengangkat puisi Tegalan dan juga sempat menerbitkannya dalam beberapa buku antoloji.
Berbeda dengan Sastra Jawa yang telah memiliki tradisi panjang sejak abad 9 sebagai Sastra Jawa Kuno,Sastra Jawa Pertengahan dan Sastra Jawa Islam dan Sastra Jawa Modern bahkan sekarang populer menjadi Sastra Jawa Gagrak Anyar,maka sejarah Sastra Tegalan hanya bisa dilacak sepanjang 2 dasawarsa terakhir.Dalam kronologi ini boleh dikatakan awalnya Sastra Tegalan hanyalah sebuah sastra migrasi bahasa, dari bahasa Indonesia beralih ke Bahasa Tegal
Dari segi tatabahasa istilah Sastra Tegalan sebenarnya masih perlu dipertanyakan.Karena sebelumnya kita sudah mengenal istilah Satra Jawa,Sastra Sunda,Sastra Bali,Sastra Lampung dsb. sebagai ciri bahwa naskah sastra dimaksud menggunakan bahasa Jawa,bahasa Jawa,bahasa Bali, bahasa Lampung dsb.Setelah Kongres Bahasa Tegal I (4 April 2006),dan kita menerima bahasa Tegal sebagai sebuah eksistensi lingguistik, mengapa kita tidak lantas menggunakan istilah Sastra Tegal ?.Memang selama ini kita mengenal istilah lagu-lagu/seni Banyumasan,Dermayon,Cirebonan,Cianjuran dsb.(Catatan : Yayasan Kebudayaan Rancage,sebuah yayasan kebudayaan yang cukup berwibawa ketika memberikan Hadiah Rancage th.2011 kepada Sdr.Lanang Setiawan,menyebutkan dalam konsiderannya bahwa yang bersangkutan telah berjasa dalam membina dan mengembangkan bahasa serta sastra Jawa dialek Tegal dan bukan Sastra Tegalan atau Sastra Tegal. Kita juga pernah mengenal istilah Sastra Etnik ketika April 2010 di Yogyakarta diselenggarakan diskusi dan pertunjukan Sastra Etnik).
2.Bahasa Tegal yang Eksotis dan Dinamis.
Sebagai salah satu dari 700-an bahasa ibu yang ada di Indonesia,bahasa Tegal selama berabad-abad tumbuh dan berkembang dengan liar hanya sebagai sarana kumunikasi verbal dan hampir tidak pernah digunakan dalam wacana literasi dan pendidikan. Hal ini mengakibatkan pola-pola sintaksis dan tatabahasa yang menyimpang dan terjadinya banyak perubahan fonetis fonologis dan juga perubahan morphologis.
dadi →gadi //durung→hurung→gurung→urung//sinau→genau//rumasa→rumangsa
→pengrasa→prengasa→perngasa//wéké→wékéné→géné//èsih→ègin→tègin//ngro-
ngokna→ngringokna dsb.
Eksotisme bahasa Tegal ditandai dengan kayanya kosakata yang sulit dicari padan katanya dalam bahasa Indonesia. Bahasa Tegal juga banyak memiliki leksikon emotif ekspresif yang tidak dijumpai dalam bahasa lokal lainnya.
/mbandhil/mlanggrang/nyegrak/patingnjluwag/gonggoman/krèkèlan/kocolan/kepokoh /kesampluk/dadaha/mangseg/ngedrel/ketriwal/njubleg dsb.
kemresek,kemrusuk,kemrisik,kemrèsèk/medodod/njebrol/mecothot/nyelag/mèngsol/marab-marab/njekutrut/cebrik/njetathut/ngoncogi dsb.
Januk,januka,sanganuk,banuken,bulabula,kedimaha,kadehe,meyeg,doyong,nglethus,nglethis,nyigit,adalah sedikit dari ratusan leksikon yang belum berhasil saya terjemahkan dengan tepat
Hal-hal tersebut sudah tentu akan lebih memperkaya ekspresi Sastra Tegalan baik dalam penulisan puisi maupun narasi-narasi prosa dan drama.Sayangnya leksikon ekspresif tersebut seringkali hanya digunakan untuk bahan lawakan atau trik memancing tawa.
Sama halnya dengan bahasa Indonesia maka serapan bahasa asing tidak bisa dihindari oleh pengguna bahasa Tegal.Disamping adanya kreatifitas bahasa yang muncul dari jargon yang tidak ketahuan dari mana sumbernya.
kharim,padasan,pejaratan,nderes,wapèk,waplo,um (oom),jakwir,goceng,ceban dsb.
3.Ejaan dan Pengucapan.
Tidak diajarkannya Bahasa Tegal disekolah tentu saja menjadikan Bahasa Tegal tidak memiliki ejaan baku untuk penulisan fonem maupun vokal. Padahal Bahasa Tegal memiliki 20 fonem dan 6 vokal, diantaranya fonem d,dh, t, th, dan vokal a,i,u,e,é,è,
Sehingga kita harus membedakan penulisan t (pentil=mangga muda) dan th (penthil=puting susu) // d (godogan=tarik menarik) dh (godhogan=rebusan) // è (bèbèk=itik).// e (bebek =tumbuk) // dsb.
4.Sastra Tegalan dan Kendala Produktifitas.
Kondisi ketiadaan media yang bersedia membuka rubrik maupun mempublikasikan karya2 Sastra Tegalan menjadikan penulisan Sastra Tegalan menjadi stagnan. Sangat disayangkan sikap ketidak pedulian media lokal yang ada di Tegal dalam ikut serta memelihara dan mengembangkan Sastra Tegalan. Penulis Sastra Tegalan selama dua dekade hanya mencatat yang “itu-itu” saja. Terbitnya beberapa buku Sastra Tegalan juga tebatas hanya antoloji puisi dan hampir tidak ada kumpulan cerpen,novel maupun karya lainnya. Disamping juga tidak adanya regenarasi yang tumbuh dan mau menggeluti Sastra Tegalan dikalangan remaja dan pelajar.Hal ini patut disayangkan karena ketiadaan bacaan yang berbasis Sastra Tegal akan berakibat lebih cepatnya kepunahan bahasa ibu sebagaimana yang telah disinyalir oleh Unesco sejak beberapa tahun yang lalu.
5.Kongres Bahasa Tegal.
Kongres Bahasa Tegal I yang diprakarsai Pemkot Tegal pada 4 April 2006 di Tegal sebenarnya merupakan secercah harapan untuk mampu menumbuh kembangkan Sastra Tegalan. Beberapa rekomendasi yang sangat relevan adalah agar difungsikannnya bahasa Tegal sebagai penguat identitas dan kebanggaan masyarakat, dan juga sebagai sarana ekspresi budaya.Bahasa Tegal juga akan dipelihara dan dikembangkan melalui kurikulum sekolah. serta akan dibentuk lembaga kajian dan pengembangan bahasa Tegal.Dan yang lebih penting adalah pemberian apresiasi dan penghargaan kepada masyarakat yang menunjukkan karya berprestasi dan berdedikasi dalam memuliakan bahasa Tegal. Namun harapan tetap tinggal harapan. Enam tahun sudah berlalu namun tidak satupun rekomendasi yang direalisasikan oleh pemangku kebijakan yang terkait.
6.Penutup.
Peringatan Hari Sastra Tegalan yang diselenggarakan setiap tahun oleh para penggiat seni budaya di wilayah ini kiranya dapat menjadi sekoci penyelamat untuk tidak tenggelamnya perahu yang kita sebut sebagai Bahasa Ibu yakni Bahasa Tegal. Bahasa adalah karya tertinggi dari peradaban umat manusia. Bahasa bukanlah hanya sederet atau sekumpulan kosakata belaka.Bahasa adalah rumah kebudayaan dan ruang kesadaran bagi penuturnya. Ia menjadi sebuah tradisi panjang, dimana bersemayam ingatan kolektif tentang eksistensi sebuah komunitas.Setiap bahasa pastilah disusun sekata demi sekata selama ratusan tahun dan belasan abad oleh para leluhur. Dan Bahasa Tegal sebagai sarana ekspresi sastra Tegalan yang tengah kita peringati hari ini adalah sebuah bahasa yang unik,berbeda,dan berkarakter.Dirgahayu Sastra Tegalan.

(Naskah ini disampaikan sebagai makalah untuk
Diskusi Sastra Tegalan dalam rangka Peringatan
Hari Sastra Tegalan di Pendopo Ki Gede Sebayu Tegal,
Tanggal 26 November 2012.
Penulis adalah Penyusun Kabus Bahasa Tegal
tinggal di Adiwerna Kab.Tegal)

Iklan

Makna Hari Sastra Tegalan

Catatan Maufur di rubrik ”Warung Poci Tegal” (SM, 19/11/12) menyebutkan 26 November adalah Hari Sastra Tegalan (HST). Penegasan itu mengundang pertanyaan karena banyak pihak menganggap keputusan itu muncul begitu saja, tak ada pijakan yang bisa dipertanggungjawabkan. Hal itu berbeda dari peringatan Hari Sastra Nasional tiap 28 April merujuk pada tanggal itu, tepatnya 28 April 1949, penyair besar Charil Anwar meninggal dalam usia 26 tahun.

”Keanehan” lain, penyelenggaraan kali pertama peringatan HST di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang tahun 2008, bukan di Tegal. Selama tiga tahun HST diperingati dengan melibatkan banyak pejabat dan tokoh. Penulis yang selalu terlibat dalam kegiatan itu bersepakat dengan teman-teman untuk menyimpan ”misteri” itu.

”Sastra Tegalan Ader Ana?” (terjemahan bebas dalam Bahasa Indonesia: ”Sastra Tegalan Memangnya Ada?”) adalah judul makalah penulis dalam diskusi sastra di salah satu stasiun radio di Slawi Kabupaten Tegal pada 7 Agustus 1994. Waktu itu, penulis senior Woerjanto menyajikan makalah bertajuk ”Menuju Sosok Sastra Tegalan”.

Diskusi ini berselang waktu 2 bulan setelah terbit buku Roa, kumpulan karya penyair Indonesia yang diterjemahkan dalam Bahasa Tegal. Semisal karya Rendra (”Nyanyian Angsa” yang dialihbahasategalkan menjadi ”Tembangan Banyak”), Taufik Ismail (”Kembalikan Indonesia Padaku”/ ”Balekna Indonesia Meneh”), Chairil Anwar (”Aku”, ”Doa”, dan ”Isa”/ ”Enyong”, ”Donga”, ”Isa”) dan banyak lagi.

Roa menginspirasi para penyair Tegal untuk menulis puisi, prosa, dan monolog dalam ”bahasa ibu”, yaitu Bahasa Tegal. Karya-karya itulah yang kemudian memperoleh label karya Sastra Tegalan. Tahun 1994-2000-an adalah tahun emas kehadiran Sastra Tegalan. Pada masa itu di Tegal terbit beberapa koran yang kemudian mati, antara lain Kontak, Porem, Literasi, Muara Sastra, dan Tegal-Tegal yang rutin menampilkan karya Sastra Tegalan.

Terbit pula sejumlah antologi puisi, antara lain ”Ruwat Desa” dengan penerbit Tegal-Tegal, 1998, ”Tembang Jiwangga” (Diah Setyawati/ DKT Tegal, 2002), ”Brug Abang” (Dwi Erry Santoso/ DKT Tegal, 2006), Ngranggeh Katuranggan” (Tegal-Tegal, 2009), ”Oreg Tegal” (Lanang Setiawan, 2011), dan ”Balada Asu” (Yayasan Pustaka, 2012).

Gairah Sastra

Pemkot Tegal mengapresiasi kemunculan Sastra Tegalan. Kongres I Bahasa Tegal yang diprakarsai Pemkot Tegal di Balai Kota pada 4 April 2006 juga menelurkan beberapa rekomendasi. Pertama; Bahasa Tegal difungsikan sebagai penguat identitas dan sarana ekspresi budaya. Kedua; Bahasa Tegal akan dikembangkan melalui kurikulum sekolah.
Ketiga; membentuk lembaga kajian dan pengembangan Bahasa Tegal. Keempat; memberikan penghargaan kepada anggota masyarakat yang menunjukkan karya berprestasi dan berdedikasi dalam memuliakan Bahasa Tegal. Hal ini yang kemudian menjadi legitimasi kegairahan sastrawan Tegal dalam berkarya menggunakan Bahasa Tegal.
Bahkan pada 31 Mei 2006, Wali Kota Tegal Adi Winarso, Ketua DPRD HA Ghautsun, anggota DPRD Hadi Soetjipto, dengan bintang tamu Bupati Tegal Agus Riyanto tampil adu baca puisi Tegalan.

Tanggal 30 Juni 2006 Bupati Agus Riyanto dan beberapa penyair Tegal membaca puisi Tegalan di Warung Apresisasi Bulungan Jakarta Selatan, dan mendapat apresiasi positif.

Masyarakat Kota dan Kabupaten Tegal rasanya perlu berkaca pada sejumlah capaian 6 tahun lalu tersebut. Sekarang, Wali Kota dan Ketua DPRD Tegal, serta Bupati Tegal, yang pernah mengusung dan memopulerkan Sastra Tegalan sudah berganti person. Kongres Bahasa Tegal pun hilang gaungnya.

Tapi masyarakat Tegal melihat belum satu pun butir rekomendasi itu yang terwujud, minimial terlihat embrionya.
Pegiat Sastra Tegalan tidak mungkin berharap karena pemimpin dan pemegang kebijakan di wilayah ini lebih disibukkan oleh urusan politik. Urusan sastra, lupakan saja. Ataukah ada yang berminat ”mengurusi?” (10)

(Suara Merdeka 26 Nopember 2012)