Setelah Pengesahan Perda Bahasa Jawa

| Jodhi Yudono | Sabtu, 19 Mei 2012 | 00:36 WIB
Dibaca: 17
Komentar: 1
|
Share:

SEMARANG, KOMPAS.com–Penerapan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa akan disesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing wilayah.

“Misalnya, wilayah Brebes, Banyumas, tentu memiliki aksen bahasa Jawa sendiri. Tidak bisa disamakan dengan wilayah Semarang atau Solo,” kata Sekretaris Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Tengah Mahmud Mahfudz di Semarang, Rabu.
Menurut dia, dalam pelaksanaan peraturan daerah tersebut, rencananya akan diwajibkan penggunaan Bahasa Jawa minimal sehari dalam sepekan.

“Aturan ini tentunya masih harus menunggu petunjuk teknis yang diatur dalam peraturan gubernur,” kata politikus Partai Keadilan Sejahtera ini.

Ia menjelaskan, kewajiban penggunaan Bahasa Jawa sehari dalam sepekan akan diterapkan di tingkat instansi pemerintahan serta sekolah.

“Juga kemungkinan diterapkan di DPRD Jawa Tengah. Tidak menutup kemungkinan, misalnya paripurna dilaksanakan dengan pengantar Bahasa Jawa,” tambahnya.

Adapun untuk instansi pemerintah di tingkat kabupaten/ kota, lanjut dia, pemerintah provinsi hanya sebatas memberikan imbauan agar peraturan daerah ini dapat dilaksanakan.

Ia menuturkan, penyusunan Peraturan Daerah Provinsi tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan kebudayaan Jawa.

Ia mengakui, keberadaan kebudayaan Jawa sudah mulai terkikis oleh globalisasi. “Banyak anak muda yang mulai meninggalkan, bahkan melupakan Bahasa Jawa,” tegasnya.

Setelah Pengesahan Perda Bahasa Jawa
Oleh Gunoto Saparie

SEJAK 60 tahun silam UNESCO telah merekomendasikan penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pendidikan. Itu langkah konkret pemertahanan dan pemberdayaan bahasa ibu. Pemertahanan bahasa ibu lazim didefinisikan sebagai upaya yang disengaja, antara lain, untuk (1) mewujudkan diversitas kultural, (2) memelihara identitas etnis, (3) memungkinkan adaptabilitas sosial, (4) secara psikologis menambah rasa aman bagi anak, dan (5) meningkatkan kepekaan linguistis (Crystal, 1997). Kelima tujuan itu rasa aman bagi anak, dan (5) meningkatkan kepekaan linguistis (Crystal, 1997). Kelima tujuan itu saling berkait dalam konteks kebudayaan. Karena itu, pemberdayaan bahasa ibu seyogianya merupakan bagian dari strategi kebudayaan.

Revitalisasi bahasa ibu pun seyogianya menjadi bagian dari strategi kebudayaan dengan beberapa alasan. Pertama, nilai bahasa terletak pada makna yang disimbolkan oleh bahasa. Bahasa Inggris, misalnya, dianggap simbol modernisme dan teknologi, sedangkan bahasa Arab dianggap simbol agama Islam. Dua contoh itu menguatkan asumsi, bahasa adalah kendaraan (baca: mengusung) kebudayaan.

Kedua, dalam konteks Indonesia, rujukan budaya nasional semula tiada lain adalah budaya-budaya etnis yang diklaim sebagai budaya nasional. Kita tak boleh melupakan, negara kesatuan Indonesia terbentuk atas kesepakatan kelompok-kelompok etnis untuk berhimpun diri dalam sebuah organisasi yang disebut negara kesatuan.

Sebagai suku bangsa terbesar di Indonesia, etnis Jawa dengan penutur puluhan juta di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta seyogianya mampu merevitalisasi bahasa Jawa. Bandingkan dengan Belanda yang berpenduduk sekitar 15 juta orang, toh bahasa Belanda memiliki vitalitas tinggi. Bila bahasa Jawa dan bahasa daerah lain sekarang kurang diminati para penuturnya, kita melihat kelemahan kesetiaan terhadap bahasa dan kita mencurigai ada kekeliruan dalam strategi kebudayaan dan pemertahanan bahasa.

Betapapun hebat sebuah peraturan, yang jauh lebih penting perwujudan peraturan itu. Perencanaan bahasa seperti digagas Noss (1994) terdiri atas tiga langkah besar, yaitu pembuatan kebijakan, implementasi, dan evaluasi. Kelahiran Peraturan Daerah (Perda) Nomor 17 Tahun 2012 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa yang sudah disahkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah merupakan tahap awal dari pembuatan kebijakan. Peraturan daerah seyogianya segera diikuti pembentukan tim perencana bahasa daerah yang beranggota papakar, seperti ahli perencanaan bahasa, linguistik, sastra, seni, pengajaran bahasa, penerbitan, naskah, dan kebudayaan. Tim itu bertugas menyusun petunjuk teknis pelaksanaan peraturan daerah, termasuk tata cara evaluasinya. Petunjuk teknis itu hendaknya disosialisasikan secara bertahap ke berbagai lembaga, seperti perguruan tinggi, DPRD II, dinas-dinas, lembaga penerbitan, sekolah-sekolah, serta petugas kebudayaan dan sosial di lapangan.

Perencanaan Bahasa Di tingkat nasional sudah ada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sebagai lembaga yang mendapat mandat dari pemerintah untuk melakukan perencanaan bahasa.

Di tingkat provinsi belum ada lembaga serupa yang memiliki wewenang, padahal Perda tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa memerlukan tindak lanjut, yakni tahap implementasi dan evaluasi yang mesti dikoordinasikan dengan baik. Namun Balai Bahasa Jawa Tengah, misalnya, agaknya belum siap berkoordinasi dengan berbagai lembaga terkait, khususnya pemerintah daerah, DPRD II, dinas kebudayaan dan pariwisata, dan sejenisnya.

Perencanaan bahasa Jawa seyogianya dilakukan secara profesional dan institusional dengan mempertimbangkan berbagai hal. Pertama, revitalisasi bahasa Jawa dilakukan melalui atau sebagai konsekuensi logis dari revitalisasi kebudayaan daerah. Kedua, revitalisasi bahasa Jawa dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, seperti media massa, perguruan tinggi, sekolah, lingkungan seni, dan organisasi sosial secara sistemik dengan target sosialisasi kelompok yang terfokus. Ketiga, pengajaran bahasa Jawa lebih difokuskan ke kefasihan berbahasa, bukan ketepatan berbahasa, agar bahasa daerah digunakan secara diglosik di masyarakat bilingual atau bahkan mutilingual. Keempat, pengajaran bahasa Jawa di sekolah hendaknya lebih mengutamakan pengenalan sastra daripada linguistik. Di sekolah, bahkan perguruan tinggi, apresiasi dan kajian kritis terhadap karya sastra Jawa seyogianya dilakukan sebelum mengapresiasi dan mengkaji secara kritis karya sastra Indonesia dan asing.

Manusia modern berkeyakinan mampu merencanakan masa depan, bukan hanya perilaku diri sendiri, melainkan juga pola masyarakat dan budayanya. Karena kebudayaan etnis dibangun melalui bahasa etnis — harus direkayasa, yakni dipertahankan dan diberdayakan melalui strategi kebudayaan sebagai upaya revitalisasi jati diri untuk menunjang kebudayaan nasional. Maka, kehadiran Perda Bahasa Jawa patut kita sambut gembira.
(RED/CN27)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook

Iklan

About ccvcku

Hadi Utomo,Lahir di Kecamatan Subah ( Kabupaten Batang - Pekalongan) 26 Januari 1939. Sekolah Rakyat dibeberapa tempat,kemudian tamat SMP Negeri Brebes th.1954 dan SMA Bag.B/Negeri di Pekalongan yh.1958. Sempat kuliah di PTP (Perguruan Tinggi Publisistik) di Jakarta th.1960 selama beberapa tahun namun tidak tamat. Bekerja di pelbagai perusahan di Jakarta sampai tahun 1970.Kemudian pindah ke Palimanan (Kab.Cirebon) sebagai petani sampai tahun 1980. Tahun 1980 berpindah ke Tegal berganti profesi dibidang radio siaran swasta sampai sekarang. Sejak di SMA gemar menulis cerpen,puisi dan artikel.Tulisan-tulisannya banyak dimuat dimajalah dan surat kabar a.l.Kisah,Sastra,Horison,Merdeka,Abadi,Berita Minggu,Duta Masyarakat dll). Salah satu cerpennya dimuat di Kumpulan Cerpen Indonesia III (Gramedia ed.Setyagraha Hoerip,1986.Sampai sekarang masih giat menulis dibeberapa media lokal dan mengelola program radio sambil sesekali membuat jingle iklan dan lagu-lagu daerah Tegal. Motto Hidup : Berguna Sampai Tua

Posted on Juli 7, 2012, in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: