Monthly Archives: Juli 2012

Setelah Pengesahan Perda Bahasa Jawa

| Jodhi Yudono | Sabtu, 19 Mei 2012 | 00:36 WIB
Dibaca: 17
Komentar: 1
|
Share:

SEMARANG, KOMPAS.com–Penerapan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa akan disesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing wilayah.

“Misalnya, wilayah Brebes, Banyumas, tentu memiliki aksen bahasa Jawa sendiri. Tidak bisa disamakan dengan wilayah Semarang atau Solo,” kata Sekretaris Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Tengah Mahmud Mahfudz di Semarang, Rabu.
Menurut dia, dalam pelaksanaan peraturan daerah tersebut, rencananya akan diwajibkan penggunaan Bahasa Jawa minimal sehari dalam sepekan.

“Aturan ini tentunya masih harus menunggu petunjuk teknis yang diatur dalam peraturan gubernur,” kata politikus Partai Keadilan Sejahtera ini.

Ia menjelaskan, kewajiban penggunaan Bahasa Jawa sehari dalam sepekan akan diterapkan di tingkat instansi pemerintahan serta sekolah.

“Juga kemungkinan diterapkan di DPRD Jawa Tengah. Tidak menutup kemungkinan, misalnya paripurna dilaksanakan dengan pengantar Bahasa Jawa,” tambahnya.

Adapun untuk instansi pemerintah di tingkat kabupaten/ kota, lanjut dia, pemerintah provinsi hanya sebatas memberikan imbauan agar peraturan daerah ini dapat dilaksanakan.

Ia menuturkan, penyusunan Peraturan Daerah Provinsi tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan kebudayaan Jawa.

Ia mengakui, keberadaan kebudayaan Jawa sudah mulai terkikis oleh globalisasi. “Banyak anak muda yang mulai meninggalkan, bahkan melupakan Bahasa Jawa,” tegasnya.

Setelah Pengesahan Perda Bahasa Jawa
Oleh Gunoto Saparie

SEJAK 60 tahun silam UNESCO telah merekomendasikan penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pendidikan. Itu langkah konkret pemertahanan dan pemberdayaan bahasa ibu. Pemertahanan bahasa ibu lazim didefinisikan sebagai upaya yang disengaja, antara lain, untuk (1) mewujudkan diversitas kultural, (2) memelihara identitas etnis, (3) memungkinkan adaptabilitas sosial, (4) secara psikologis menambah rasa aman bagi anak, dan (5) meningkatkan kepekaan linguistis (Crystal, 1997). Kelima tujuan itu rasa aman bagi anak, dan (5) meningkatkan kepekaan linguistis (Crystal, 1997). Kelima tujuan itu saling berkait dalam konteks kebudayaan. Karena itu, pemberdayaan bahasa ibu seyogianya merupakan bagian dari strategi kebudayaan.

Revitalisasi bahasa ibu pun seyogianya menjadi bagian dari strategi kebudayaan dengan beberapa alasan. Pertama, nilai bahasa terletak pada makna yang disimbolkan oleh bahasa. Bahasa Inggris, misalnya, dianggap simbol modernisme dan teknologi, sedangkan bahasa Arab dianggap simbol agama Islam. Dua contoh itu menguatkan asumsi, bahasa adalah kendaraan (baca: mengusung) kebudayaan.

Kedua, dalam konteks Indonesia, rujukan budaya nasional semula tiada lain adalah budaya-budaya etnis yang diklaim sebagai budaya nasional. Kita tak boleh melupakan, negara kesatuan Indonesia terbentuk atas kesepakatan kelompok-kelompok etnis untuk berhimpun diri dalam sebuah organisasi yang disebut negara kesatuan.

Sebagai suku bangsa terbesar di Indonesia, etnis Jawa dengan penutur puluhan juta di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta seyogianya mampu merevitalisasi bahasa Jawa. Bandingkan dengan Belanda yang berpenduduk sekitar 15 juta orang, toh bahasa Belanda memiliki vitalitas tinggi. Bila bahasa Jawa dan bahasa daerah lain sekarang kurang diminati para penuturnya, kita melihat kelemahan kesetiaan terhadap bahasa dan kita mencurigai ada kekeliruan dalam strategi kebudayaan dan pemertahanan bahasa.

Betapapun hebat sebuah peraturan, yang jauh lebih penting perwujudan peraturan itu. Perencanaan bahasa seperti digagas Noss (1994) terdiri atas tiga langkah besar, yaitu pembuatan kebijakan, implementasi, dan evaluasi. Kelahiran Peraturan Daerah (Perda) Nomor 17 Tahun 2012 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa yang sudah disahkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah merupakan tahap awal dari pembuatan kebijakan. Peraturan daerah seyogianya segera diikuti pembentukan tim perencana bahasa daerah yang beranggota papakar, seperti ahli perencanaan bahasa, linguistik, sastra, seni, pengajaran bahasa, penerbitan, naskah, dan kebudayaan. Tim itu bertugas menyusun petunjuk teknis pelaksanaan peraturan daerah, termasuk tata cara evaluasinya. Petunjuk teknis itu hendaknya disosialisasikan secara bertahap ke berbagai lembaga, seperti perguruan tinggi, DPRD II, dinas-dinas, lembaga penerbitan, sekolah-sekolah, serta petugas kebudayaan dan sosial di lapangan.

Perencanaan Bahasa Di tingkat nasional sudah ada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sebagai lembaga yang mendapat mandat dari pemerintah untuk melakukan perencanaan bahasa.

Di tingkat provinsi belum ada lembaga serupa yang memiliki wewenang, padahal Perda tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa memerlukan tindak lanjut, yakni tahap implementasi dan evaluasi yang mesti dikoordinasikan dengan baik. Namun Balai Bahasa Jawa Tengah, misalnya, agaknya belum siap berkoordinasi dengan berbagai lembaga terkait, khususnya pemerintah daerah, DPRD II, dinas kebudayaan dan pariwisata, dan sejenisnya.

Perencanaan bahasa Jawa seyogianya dilakukan secara profesional dan institusional dengan mempertimbangkan berbagai hal. Pertama, revitalisasi bahasa Jawa dilakukan melalui atau sebagai konsekuensi logis dari revitalisasi kebudayaan daerah. Kedua, revitalisasi bahasa Jawa dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, seperti media massa, perguruan tinggi, sekolah, lingkungan seni, dan organisasi sosial secara sistemik dengan target sosialisasi kelompok yang terfokus. Ketiga, pengajaran bahasa Jawa lebih difokuskan ke kefasihan berbahasa, bukan ketepatan berbahasa, agar bahasa daerah digunakan secara diglosik di masyarakat bilingual atau bahkan mutilingual. Keempat, pengajaran bahasa Jawa di sekolah hendaknya lebih mengutamakan pengenalan sastra daripada linguistik. Di sekolah, bahkan perguruan tinggi, apresiasi dan kajian kritis terhadap karya sastra Jawa seyogianya dilakukan sebelum mengapresiasi dan mengkaji secara kritis karya sastra Indonesia dan asing.

Manusia modern berkeyakinan mampu merencanakan masa depan, bukan hanya perilaku diri sendiri, melainkan juga pola masyarakat dan budayanya. Karena kebudayaan etnis dibangun melalui bahasa etnis — harus direkayasa, yakni dipertahankan dan diberdayakan melalui strategi kebudayaan sebagai upaya revitalisasi jati diri untuk menunjang kebudayaan nasional. Maka, kehadiran Perda Bahasa Jawa patut kita sambut gembira.
(RED/CN27)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook

Hadi Utomo Setia Merawat Bahasa Tegal

kompas.com| Jodhi Yudono | Senin, 4 Juni 2012 | 10:32 WIB
Dibaca: 630
Komentar: 0

KOMPAS/SIWI NURBIAJANTI

Kesadaran bahwa bahasa Tegal memiliki peranan penting dan demi menjaga agar bahasa ini tidak punah menjadi penyemangat bagi Hadi Utomo untuk tetap setia merawat bahasa Tegal. Selama lebih dari 10 tahun dia mengumpulkan satu per satu kosakata bahasa Tegal, lalu menyusunnya menjadi kamus bahasa Tegal-Indonesia.

Meskipun kamus tersebut belum dipasarkan secara terbuka, kehadiran kamus itu sangat berharga, terutama bagi kaum muda Tegal. Kamus bahasa Tegal-Indonesia tersebut dinilai penting agar warga Tegal dan sekitarnya tidak kehilangan bahasa ibu. Dalam kamus itu, terdapat sekitar 5.00
Dalam kamus itu, terdapat sekitar 5.000 kosakata yang sudah diterjemahkan Hadi Utomo.

Pria yang lahir di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ini mulai menetap di Tegal tahun 1980. Sekarang dia tinggal di Desa Tembok Luwung, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Setelah menyelesaikan pendidikan SD dan SMP di Brebes tahun 1954, Hadi melanjutkan pendidikan di SMA B Pekalongan hingga tahun 1957. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi Publisistik di Jakarta, tetapi tidak tamat.

Saat di Jakarta, Hadi pernah bekerja di salah satu surat kabar. Dia juga menulis untuk sejumlah media cetak hingga tahun 1968. Selanjutnya, Hadi pindah ke Cirebon dan memilih menjadi petani sampai tahun 1980. Baru setelah itu, ia memutuskan pindah ke Tegal dan bekerja mengelola sejumlah radio.

Hingga kini Hadi masih aktif menjadi penanggung jawab siaran dan berita pada Radio Gemilang di Kabupaten Brebes. Setiap Sabtu sore dia membawakan siaran berbahasa Tegal di radio tersebut dalam acara ”Medang Sore” (minum pada sore hari).

Mengelola radio

Hadi mulai tergelitik merawat bahasa Tegal mulai tahun tahun 1990. Sebagai pengelola radio, ia sering mendapati penggunaan bahasa Tegal sebagai materi siaran, materi promosi, dan materi iklan sejumlah perusahaan.

Bahkan, sebagian besar perusahaan memutuskan menggunakan jingle berbahasa Tegal untuk iklan
Bahkan, sebagian besar perusahaan memutuskan menggunakan jingle berbahasa Tegal untuk iklan mereka di radio. Bahasa Tegal juga menjadi slogan di beberapa daerah, seperti ”Tegal Keminclong Moncer Kotane”, yang menjadi slogan Kota Tegal.

Hadi pun sering diminta membuatkan jingle untuk iklan perusahaan di radio. Sampai sekarang ia melihat hampir 75 persen perusahaan yang memasarkan produknya di Tegal menggunakan jingle berbahasa Tegal untuk iklan mereka di radio. Jumlah jingle berbahasa Tegal yang sudah diciptakan Hadi pun mencapai lebih dari 100.

Melihat kondisi tersebut, Hadi menyadari bahwa bahasa Tegal memiliki peranan penting. Iklan yang menggunakan bahasa Tegal dirasakan lebih mengena dalam masyarakat sehingga pemasaran produknya juga lebih mudah.

”Bahasa Tegal itu penting sebagai sarana komunikasi, ekspresi, dan budaya,” kata Hadi.

Karena itu, ia kemudian tergerak membuat kamus bahasa Tegal guna merawat keberadaan bahasa tersebut. Ia sengaja menggunakan istilah merawat, bukan melestarikan. Alasannya, dengan istilah melestarikan, itu berarti ada tanggung jawab bahwa bahasa tersebut tidak mungkin punah.

Padahal, menurut Hadi, suatu bahasa bisa punah karena pemakainya semakin sedikit. ”Jadi, bahasa itu perlu dirawat untuk menunda kepunahan,” ujarnya.

Kamus bahasa Tegal ia susun sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun di antara kesibukannya sebagai pengelola radio. Setiap kata berbahasa Tegal yang ditemukan dan muncul dalam kehidupan sehari-hari ia catat, lalu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Selain 5.000 kosakata yang sudah tersusun dalam kamus, Hadi masih memiliki ratusan kata lai
Selain 5.000 kosakata yang sudah tersusun dalam kamus, Hadi masih memiliki ratusan kata lain yang belum ia bukukan. Kamus yang dibuatnya itu mendapat penghargaan sebagai Karya Terbaik Masyarakat dari Pemerintah Kabupaten Tegal tahun 2009.

Selain kata-kata, ia juga menemukan beberapa ajaran berbahasa Tegal yang mengajarkan kearifan lokal masyarakat setempat. Seperti ungkapan aja onggrongan yang berarti jangan melakukan sesuatu sekadar untuk mendapat pujian, aja gagahan yang berarti jangan sok gagah atau sok berkuasa, serta aja kadiran yang berarti jangan mentang-mentang.

Kantong budaya

Hadi menolak anggapan bahwa bahasa Tegal kasar dan tak mengenal unggah ungguh (tata krama). Bahasa Tegal memang berbeda dengan bahasa Jawa yang banyak digunakan di wilayah Yogyakarta dan Solo karena Tegal lokasinya jauh dari pusat budaya keraton.

Sementara bahasa Jawa halus yang berlaku di wilayah Yogyakarta, Solo, dan sekitarnya, katanya, merupakan bahasa yang diciptakan dalam sistem budaya Mataram untuk menghormati raja-raja. ”Tegal merupakan kantong (budaya) sendiri,” tutur Hadi.

Karena kondisi itu pula, bahasa Tegal cenderung tumbuh liar dan berkembang apa adanya di masyarakat. Bahkan, karena keliarannya, masyarakat Tegal banyak yang membuat bahasa sendiri untuk percakapan sehari-hari.

Dalam bahasa Tegal pun, kemudian muncul banyak padanan kata untuk satu arti, seperti kata rada, mandan, manda, dan semanda, yang semuanya berarti agak.
Bahasa Tegal juga lebih bersifat egaliter dan demokratis. Bahasa Tegal tidak mengenal struktur penggunaan bahasa, seperti halnya dalam bahasa Jawa, yaitu krama inggil, krama madya, dan ngoko.

Dalam bahasa Tegal hanya dikenal bahasa ngoko dan bebasan, yaitu bahasa yang digunakan saat berbicara dengan orang yang lebih tua atau orang yang dihormati. Seperti kata kowen (kamu) yang kemudian diganti menjadi kata rika atau sampeyan, dan kata durung (belum) yang berubah menjadi dereng.

Oleh karena itu, di tengah upayanya merawat bahasa Tegal, Hadi berharap ada lembaga resmi yang mau dan mampu menangani perkembangan bahasa Tegal. Keberadaan lembaga tersebut untuk menjinakkan keliaran bahasa Tegal sehingga memunculkan pembakuan dalam bahasa tersebut.

Dengan adanya pembakuan, bahasa Tegal bisa dimasukkan dalam kurikulum sekolah sehingga bisa dijadikan sebagai mata pelajaran bagi anak didik di Tegal.

Selama ini pelajaran bahasa daerah yang diterima anak sekolah di Tegal merupakan bahasa Jawa yang biasa digunakan di wilayah Yogyakarta dan Solo.

Hal itu justru membingungkan siswa karena bahasa yang mereka pelajari tak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.***