Monthly Archives: Juni 2012

Modernisasi dan Kearifan Lokal dalam Perspektif Budaya dan Bahasa Tegal

I.Pendahuluan.

1.Perubahan adalah sebuah keniscayaan.Umat manusia dan alam semesta sudah diberi ketentuan dan ketetapan oleh Allah Swt.(sunnatullah) untuk selalu mengikuti hukum perubahan yang telah ditetapkanNya.Bahkan manusia diberikan akal dan ilmu pengetuan untuk mampu merubah dirinya (hijrah) menjadi umat yang lebih baik.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan modernisasi dan globalisasi.Modernisasi secara positip menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat yang semula irasional menjadi rasional dan berfikir lebih progressif, sehingga bisa mendorong kearah tingkat kehidupan yang lebih baik.Namun dalam pelbagai hal,modernisasi juga berdampak negatif antara lain menumbuhkan sikap individualistik,faham materialistis,sekularisme,dan pola hidup konsumtif

2.Salah satu produk dari peradaban umat manusia adalah kebudayaan,ilmu pengetahuan dan teknologi.Kebudayaan adalah sebuah rangkuman dari hasil perjuangan manusia yang meliputi gagasan tentang seni,moral,hukum,adat istiadat,tradisi dan hal-hal lain yang menjadi faham untuk mengatur perilaku baik secara individu maupun kelompok.Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa kebudayaan adalah bukti keunggulan manusia untuk mengatasi pelbagai rintangan dan kesukaran guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang tertib dan damai.

3.Kearifan lokal adalah produk budaya lokal (setempat) yang dianut sebagai faham,pedoman dan norma dalam mengatur perilaku dan tata kehidupan masyarakatnya.Dalam masyarakat tradisional kearifan lokal ditampilkan sebagai tradisi,ritual,laku (kewajiban) dan larangan (pantangan),cerita-cerita rakyat,legenda,mitos,ujaran,wejangan,mantra,jampi-jampi dan sebagainya.Hal-hal tersebut biasanya dikomunikasikan melalui bahasa dan simbol-simbol yang dibumbui dengan unsur-unsur magis, dan secara turun temurun dipelihara oleh para sesepuh dan tokoh spiritual yang diyakini kebenarannya.

4.Bahasa lokal memegang peran yang sangat penting dalam upaya penyampaian pesan dan gagasan-gagasan dalam kearifan lokal.Bahasa lokal lebih komunikatif sehingga nilai-nilai kebajikan yang disampaikan dapat segera diterima,dihayati dan diaktualisasikan oleh masyarakat.Dongeng,cerita rakyat,ujaran,wejangan,mantra dan lain-lain semua dikemas dalam bahasa lokal.Selanjutnya bahasa lokal menjadi sarana ekspresi dan kreatifitas yang kita sebut sebagai kesenian daerah.Bahasa lokal juga menjadi ciri dan identitas (jatidiri) yang membedakan satu etnis (suku bangsa) dengan etnis yang lain.

II.Kearifan Lokal dan Bahasa Tegal.

Sejak penyebaran agama Islam di Jawa oleh Walisongo pada abad 14,dan berdirinya kerajaan Islam pada abad 15 , kebudayaan yang berkembang di pulau Jawa lebih dipengaruhi agama Islam.Keberhasilan Walisongo didalam menanamkan nilai-nilai Islam pada masyarakat Jawa adalah melalui bidang pendidikan dan seni budaya dengan tidak meninggalkan kearifan lokal yang sudah ada.Kebudayaan Jawa dengan kearifan lokal-nya yang penuh tatakrama dan unggah-ungguh berkembang pesat dipusat-pusat kerajaan yang feodalistik.Bahasa dan sastra diolah menjadi karya-karya yang adiluhung misalnya Serat Wulangreh (Paku Buwana IV),Serat Wedatama (Mangkunegara IV),Kidung Dewaruci (Yasadipura) dan puluhan bahkan ratusan buku2 dan naskah kuno yang lain.Masyarakat menerimanya sebagai tuntunan dan pedoman perilaku yang berisi norma-norma yang harus diikuti. Dalam era modern, nilai-nilai tersebut terus dipertahankan sebagai filter sehingga modernisasi tidak menimbulkan perubahan sosial yang negatif.

Kerifan lokal dalam dalam masyarakat Tegal seharusnya dapat ditelusuri melalui pelbagai kajian,misalnya bahasa,kesenian tradisional,cerita rakyat,tatacara dan upacara,bahkan makanan dan busana.Sayangnya tidak ada kepustakaan yang bisa dijadikan rujukan mengingat budaya Tegal tidak memiliki tradisi literasi.Bahkan tradisi lisanpun (dongeng,lagu-lagu daerah dsb.) sangat sulit ditemukan,mengingat para pelakunya didak pernah mewariskan kepada generasi masih penerusnya.

Berikut adalah beberapa contoh dari kearifan lokal yang kita pungut dari kosakata Bahasa Tegal.

a.Naga dina dan Petungan
Menentukan watak hari dalam kaitannya dengan aktifitas sosial (hari Sabtu jangan bepergian karena banyak kecelakaan).Menentukan hari baik berdasarkan weton atau hari lahir untuk perjodohan,hari perkawinan,mendirikan rumah dsb.

a.Gugon tuwon atau pemali.
Pantangan yang diberikan oleh orang-orang tuaJangan duduk di tengah pintu nanti susah mendapat jodoh.Jangan makan sambil berdiri nanti rejekinya jauh dsb.

b.Menjalankan suatu laku (perbuatan) untuk mencapai sesuatu,misalnya mutih (makan tanpa lauk),ngasrep (makan tanpa rasa asin atau manis) dsb.

Sebagian masyarakat Tegal barangkali masih mengikuti kearifan lokal yang diwariskan oleh para orang-orang tua,karena alasan-alasan takut kuwalat dsb. Namun sebagian lainnya setelah memperoleh referensi-refensi agama dan pengetahuan modern sudah meninggalkan hal-hal yang dianggap syirik dan irasional.

III .Modernisasi dan Bahasa Tegal.
Dari perspektif Bahasa Tegal, kita akan mencoba untuk menelusuri sejauh mana modernisasi telah berpengaruh terhadap kearifan lokal.Bahasa Tegal sebagai warisan budaya setidaknya memiliki andil didalam membentuk karakter masyarakat Tegal. Menurut terminologi UNESCO (United Nation Educational Scientitif and Cultural Organization/Organisasi PBB untuk Pendidikan,Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan) Bahasa Tegal adalah bahasa Ibu.Bahasa Ibu adalah bahasa pertama yang dipelajari seseorang dari orang tuanya dan akan digunakan sebagai sarana komunikasi verbal antar sosialnya. Bahasa Ibu sangatlah penting karena ia akan menjadi cetak biru didalam kecerdasan seseorang menerima informasi sejak dini.Untuk memelihara agar bahasa-bahasa Ibu tidak punah,maka sejak tahun 2000 Unesco menetapkan setiap tanggl 21 Pebruari sebagai Hari Bahasa Ibu International.Menarik untuk diketahui bahwa dari 742 bahasa Ibu di Indonesia, 169 diantaranya terancam punah karena penuturnya kurang dari 500 orang.Bagaimana dengan Bahasa Tegal ?

Wilayah pengguna Bahasa Tegal karena posisinya yang jauh dari pusat budaya kraton nyaris tidak tersentuh dengan apa yang disebut “budaya adiluhung”.Masyarakat Tegal memiliki bahasa dan budaya Jawa tersendiri yang lebih demokratis dan a-feodalistik.Bahasa Tegal tidak mengenal strata (tingkatan) ketiga yang disebut “kromo inggil”,tetapi hanya mengenal “ngoko” dan “bebasa”. Bahasa Tegal menjadi bahasa yang terbuka dan mudah menerima serapan bahasa asing.Bahasa Tegal juga tidak pernah diajarkan di sekolah,sehingga bahasa ini berkembang dengan liar,tanpa memiliki paramasastra dan ejaan yang baku.

Strata bahasa yang diikuti dengan diskriminasi strata sosial, yakni adanya masyarakat golongan “priyayi” dan golongan “rendah” menyebabkan Bahasa Tegal mengidap beban budaya dengan stigmatisasi sebagai bahasa yang kasar,tidak punya unggah-ungguh dan tatakrama.Padahal setiap etnis dan bahasa ibu memiliki karakter masing-masing, bagaimana bahasa tersebut memiliki ungkapan-ungkapan honorifik,sebagai penghormatan kepada lawan bicara.Bahasa Tegalpun memiliki ungkapan honorifik,yang khas dan spesifik,tidak sama dengan bahasa Jawa baku.

Dalam era modernisasi yang mendorong kesetaraan sosial, Bahasa Tegal menjadi semakin dinamis,demokratis dan egaliter.Pengaruh budaya kota melalui urbanisasi Bahasa Tegal menjadi bahasa yang lentur dan mudah menerima ungkapan-ungkapan modern tanpa bisa disaring sebagaimana bahasa Jawa (baku) yang di”filter” dan di”lindungi” oleh otorisasi Pemerintah Daerah (Jateng dan Jatim) yang terus mengajarkan bahasa daerah (baku di sekolah dan setiap 5 tahun menyelenggarakan Kongres Bahasa Jawa.

Sudah saatnya Bahasa Tegal memiliki sebuah lembaga yang dapat mengendalikan dan menyaring dengan bijaksana, agar modernisasi tidak justru merusak dan memperparah perkembangan Bahasa Tegal.

IV.Penutup.

Modernisasi bagi masyarakat Tegal yang dinamis dan terbuka sudah memasuki seluruh wilayah kehidupannya.Teknologi informasi yang mudah dijangkau dan penetrasi media yang bebas masuk diruang-ruang keluarga adalah monster budaya baru yang selalu mengancam.
Budaya modern yang salah kaprah dan dimaknai secara dangkal oleh generasi muda sudah sangat meresahkan.Budaya mall,hedonisme dan konsumerisme,dimana tawaran menggiurkan menjadikan kita ketagihan membeli barang-barang yang sesungguhnya tidak kita butuhkan.

Tugas berat bagi orang tua,para pendidik,agamawan dan budayawan untuk dapat menempatkan generasi mudaTegal dalam kearifan lokal yang masih sempat kita rawat dan selamatkan.

Kita kutip ungkapan kata bijak dalam Bahasa Tegal “Aja onggrongan,aja gagahan,aja kadiran.Aja wani utang, aja gawe wirang”.

Tegal, 2 Juni 2011.
Disampaikan dalam Seminar Budaya
Kearifan Lokal Dalam Arus Modernisasi
IMT Komisariat IAIN Walisongo Semarang
Di Aula STIBN – Slawi Kabupaten Tegal.