Monthly Archives: Mei 2011

Sebuah Catatan untuk Nyanyian Kembang Tebu (Nening Mahandra)

Oleh : M.Hadi Utomo *)

Memotret dunia anak-anak dari sudut pandang orang dewasa seringkali menampilkan sebuah reproduksi yang bias.Seringkali tokoh anak-anak akan muncul secara artifisial,tidak saja lewat karakter yang ingin ditampilkan,tetapi juga dialog anak-anak yang mewarnai setiap adegan .Tokoh anak-anak sering menjebak sang penulis untuk ditampilkan secara tipikal hitam putih. Baik,rajin,penurut,pandai. Atau culas,nakal dan malas. Begitu pula dalam menyusun dialog, yang sering terjadi adalah bukan percakapan dengan logika dan bahasa anak. Di tangan penulis Nening S.Mahendra (57),cerita anak-anak Nyanyian Kembang Tebu (NyKT) dengan setting pedesaan yang berada dikawasan pabrik gula (PG) Pangkah – Tegal ini ,tidak saja unik dan menarik,tetapi natural dan orisinal.

Pabrik gula (PG) adalah bagian dari sejarah panjang kolonialisme di negeri ini yang berlangsung sejak awal abad ke 19. Di kawasan sekitar PG ini berkembang sebuah komunitas dengan budaya yang agak berbeda dengan komunitas lain,karena adanya interaksi sosial dengan struktur industri yang berbeda dengan pola hidup pedesaan yang masih tradisional.Menjadi buruh,berinteraksi dengan tuan-tuan Belanda dan staf pabrik yang biasanya berasal dari daerah lain,yang berlangsung selama beberapa generasi,tentulah membekas dan berpengaruh secara sosial dan budaya. Begitu pula anak-anak yang tinggal di sekitar pabrik gula.Kehadiran sebuah pabrik,cerobong yang tinggi menjulang,deru mesin,lori tebu dengan rel-rel yang melintang ditengah persawahan,tentulah akan menimbulkan sensasi dan imajinasi yang sulit dibayangkan dalam benak mereka.Belum lagi adanya upacara-upacara dan perayaan yang selalu dinantikan oleh anak-anak, yang dalam (NyKT) menjadi bab pembuka yaitu Nonton Methikan dan Pengantin Tebu. Inilah pesta diawalinya musim giling atau produksi di setiap pabrik gula. Pesta yang merupakan pasar malam berlangsung selama beberapa hari dan merupakan hiburan tersendiri bagi masyarakat sekitar pabrik.

Hal-hal itulah yang menjadi sebagian latar belakang potret anak-anak dalam NyKT. Layaknya sebuah novel yang didedikasikan untuk bacaan anak-anak, Nening S.Mahendra dengan terampil meramu pelbagai unsur yang selalu menjadi bumbu penyedap dunia anak-anak,yakni petualangan,persahabatan,perkelahian antar kelompok (Tawuran,Malam yang Mencekam), takhayul,tempat angker,orang sakti,penampakan arwah dan misteri-misteri lainnya (Tuan Halbosh,Misteri Loko Uap Nomor Delapan,Misteri Jembatan Tonggara dsb).Disamping tentu saja pelpagai contoh kebajikan,pendidikan dan ilmu pengetahuan (Pertemuan di Pendopo,Mengunjungi Pabrik,Diskusi Gula Pasir dsb.) yang bekelindan dalam jalinan kisah-kisah yang sangat menarik.Sejarah dan latar belakang pendirian pabrik gula,pengetahuan tentang teknik dan permesinan ,proses produksi dari air tebu menjadi gula pasir,bahkan sistem administrasi pabriki gula juga tidak luput diangkat dalam buku ini.Namun semuanya ditampilkan dalam bingkai yang sangat lentur,sehingga tanpa merasa diberi “pelajaran”,pembaca (anak-anak) akan memahami melalui sebuah alur cerita dan percakapan para tokoh.

Hal lain yang menarik dalam buku ini adalah banyaknya percakapan yang menggunakan dialek Tegal sehingga lebih mengentalkan warna lokal yang hendak ditampilkan.Dialek yang sudah sejak lama sering dijadikan lawakan di media tv ini, adalah sebuah warisan budaya (bahasa ibu) yang kaya dengan idiom – idiom khas . Idiom dan kata seru yang sulit di- Bahasa Indonesia-kan. Bagi penutur bahasa yang dekat dan memahami dialek Tegal, “ramai”-nya dialog Tegalan dalam buku ini tentulah merupakan daya tarik tersendiri. Bagi penutur bahasa yang tidak akrab dengan dialek Tegal mungkin agak terganggu,meskipun diberikan catatan kaki sampai ratusan nomor.

Yang jelas (NyKT) adalah sebuah potret lengkap dunia anak-anak dari sebuah wilayah yang sangat unik dan menarik. Banyak sekali surprise dan hal-hal baru dalam (NyKT) yang jarang atau hampir tidak pernah diangkat dalam khasanah bacaan anak-anak sebelumnya.

Itulah sekedar catatan untuk mendorong minat khalayak pecinta buku,khususnya buku bacaan untuk anak-anak. Selamat membaca !

——–
*).Pemerhati Sosial Budaya / Penyusun Kamus Bahasa Tegal.

Bahasa Tegal.

Iklan