Bahasa Tegal dibawah kekuasaan simbolik.

(Stigma tentang bahasa halus dan bahasa kasar,budaya adiluhung dan budaya pinggiran)

Bahasa adalah bagian dari cara hidup pribadi dan kelompok.Bahasa tdk sekadar obyek pemahaman.Bahasa adalah anak kebudayaan.Adanya (diaadakannya) pengotakan,halus/kasar,baik /jelek,salah benar/pinggiran/adiluhung,menunjukkan adanya benih2 kekuasaan simboli. Pierre Bourdieu,sosiolog Prancis,prihatin ketika bahasa dijadikan alat canggih untuk mewujudkan kekuasaan simbolik. Begitu halusnya kekuasaan simbolik memainkan perannya untuk menggolongkan suatu bahasa sebagai sebuah bahasa pinggiran lantaran stigma kasar dan tidak bernilai/bermutu, sehingga penutur/komunitas pemilik bahasa tersebut tidak merasakan dan tidak berkebaratan.

Standardisasi bahasa dan Budaya Jawa berkiblat ke Surakarta dan Yogyakarta.Diluar itu,dianggapnya bahasa/budaya/sastra tidak adiluhung atau pinggiran.
Padahal,wilayah Banyumas,Pati,Tegal dan sekitarnya memiliki dialek bahasa Jawa yang mengandung nilai2 yang berkaitan dengan perilaku dan budaya komunitas yang bersangkutan.
Justru ruh budaya tsb.(termasuk budaya Tegalan yang “kasar” “cablaka/terus terang” itulah yang membedakan dengan budaya feodalisme/priyayi dan Kraton.

Rasa malu,minder/rendah diri bahkan menertawakan bahasanya sendiri,adalah sikap yang memang sudah didisain oleh penguasa (tempo dulu) untuk membedakan para priyayi (symbol kekuasaan) dan para rendahan/rakyat jelata.

Tidak mudah memang untuk mengangkat jatidiri,sampai membanggakan bahasa ibu milik sendiri. melawan kekuasaan simbolik yang sudah berlangsung lama dan sistematik.Namun itu semua bukan hanya menjadi tanggung jawab orang Tegal,namun juga para penggiat budaya Jawa,terutama para pemegang institusi budaya di wilayah ini.

Penghargaan Rancage kepada Lanang Setiawan merupakan bukti bahwa Bahasa Jawa Dialek Tegal (kita lebih senang disebut Bahasa Tegalan), juga bisa disebut adiluhung/bernilai budaya tinggi.
Menurut Lanang Setiawan (dan para seniman/buyawan Tegal lainnya) maka perjuangan mengusung bahasa Tegal adalah symbol perlawanan atas dominasi bahasa dan budaya Wetanan.

Dikutip dari tulisan Sendang Mulyana
Rancage,Lanang Setiawan lan Sastra Pinggiran.
(Suara Merdeka 13/2/2011)

Iklan

About ccvcku

Hadi Utomo,Lahir di Kecamatan Subah ( Kabupaten Batang - Pekalongan) 26 Januari 1939. Sekolah Rakyat dibeberapa tempat,kemudian tamat SMP Negeri Brebes th.1954 dan SMA Bag.B/Negeri di Pekalongan yh.1958. Sempat kuliah di PTP (Perguruan Tinggi Publisistik) di Jakarta th.1960 selama beberapa tahun namun tidak tamat. Bekerja di pelbagai perusahan di Jakarta sampai tahun 1970.Kemudian pindah ke Palimanan (Kab.Cirebon) sebagai petani sampai tahun 1980. Tahun 1980 berpindah ke Tegal berganti profesi dibidang radio siaran swasta sampai sekarang. Sejak di SMA gemar menulis cerpen,puisi dan artikel.Tulisan-tulisannya banyak dimuat dimajalah dan surat kabar a.l.Kisah,Sastra,Horison,Merdeka,Abadi,Berita Minggu,Duta Masyarakat dll). Salah satu cerpennya dimuat di Kumpulan Cerpen Indonesia III (Gramedia ed.Setyagraha Hoerip,1986.Sampai sekarang masih giat menulis dibeberapa media lokal dan mengelola program radio sambil sesekali membuat jingle iklan dan lagu-lagu daerah Tegal. Motto Hidup : Berguna Sampai Tua

Posted on Maret 17, 2011, in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: