Monthly Archives: Maret 2011

Bahasa Tegal dibawah kekuasaan simbolik.

(Stigma tentang bahasa halus dan bahasa kasar,budaya adiluhung dan budaya pinggiran)

Bahasa adalah bagian dari cara hidup pribadi dan kelompok.Bahasa tdk sekadar obyek pemahaman.Bahasa adalah anak kebudayaan.Adanya (diaadakannya) pengotakan,halus/kasar,baik /jelek,salah benar/pinggiran/adiluhung,menunjukkan adanya benih2 kekuasaan simboli. Pierre Bourdieu,sosiolog Prancis,prihatin ketika bahasa dijadikan alat canggih untuk mewujudkan kekuasaan simbolik. Begitu halusnya kekuasaan simbolik memainkan perannya untuk menggolongkan suatu bahasa sebagai sebuah bahasa pinggiran lantaran stigma kasar dan tidak bernilai/bermutu, sehingga penutur/komunitas pemilik bahasa tersebut tidak merasakan dan tidak berkebaratan.

Standardisasi bahasa dan Budaya Jawa berkiblat ke Surakarta dan Yogyakarta.Diluar itu,dianggapnya bahasa/budaya/sastra tidak adiluhung atau pinggiran.
Padahal,wilayah Banyumas,Pati,Tegal dan sekitarnya memiliki dialek bahasa Jawa yang mengandung nilai2 yang berkaitan dengan perilaku dan budaya komunitas yang bersangkutan.
Justru ruh budaya tsb.(termasuk budaya Tegalan yang “kasar” “cablaka/terus terang” itulah yang membedakan dengan budaya feodalisme/priyayi dan Kraton.

Rasa malu,minder/rendah diri bahkan menertawakan bahasanya sendiri,adalah sikap yang memang sudah didisain oleh penguasa (tempo dulu) untuk membedakan para priyayi (symbol kekuasaan) dan para rendahan/rakyat jelata.

Tidak mudah memang untuk mengangkat jatidiri,sampai membanggakan bahasa ibu milik sendiri. melawan kekuasaan simbolik yang sudah berlangsung lama dan sistematik.Namun itu semua bukan hanya menjadi tanggung jawab orang Tegal,namun juga para penggiat budaya Jawa,terutama para pemegang institusi budaya di wilayah ini.

Penghargaan Rancage kepada Lanang Setiawan merupakan bukti bahwa Bahasa Jawa Dialek Tegal (kita lebih senang disebut Bahasa Tegalan), juga bisa disebut adiluhung/bernilai budaya tinggi.
Menurut Lanang Setiawan (dan para seniman/buyawan Tegal lainnya) maka perjuangan mengusung bahasa Tegal adalah symbol perlawanan atas dominasi bahasa dan budaya Wetanan.

Dikutip dari tulisan Sendang Mulyana
Rancage,Lanang Setiawan lan Sastra Pinggiran.
(Suara Merdeka 13/2/2011)

Iklan