Menanti Kurikulum Pelajaran Bahasa Tegal.

SAMBIL memeringati Hari Bahasa Ibu Internasional tanggal 21 Pebruari, kita layak mengapresiasi pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Kota Tegal yang akan menjadikan bahasa Tegal sebagai kurikulum muatan lokal (SM 29/1). Bahasa Tegal adalah salah satu dari sekitar 700-an bahasa ibu yang (masih) ada di Indonesia. Secara psikologis bahasa Tegal sudah tertanam didalam pikiran anak-anak yang lahir dan dibesarkan di wilayah ini.Secara sosial bahasa Tegal adalah sarana komunikasi dan ekspresi jatidiri “wong” Tegal yang telah berlangsung turun temurun. Salah satu rekomendasi Kongres Bahasa Tegal I (4 April 2006) adalah pembudayaan bahasa Tegal melalui strategi kurikuler. Selama ini sesuai dengan SK Gubernur No.895.5/01/2005 untuk siswa SD/SMP/SMA wilayah Jawa Tengah diberlakukan kurikulum bahasa Jawa sebagai muatan lokal (mulok). Namun bagi siswa yang sehari-hari berbahasa Tegal, pelajaran bahasa Jawa (baku) dirasakan sangat sulit bahkan menjadi momok yang menakutkan. Berdasarkan pengamatan penulis, kebanyakan siswa tidak menguasai materi yang diajarkan. Mata pelajaran (mapel) bahasa Jawa dengan segala bentuk kaidah-kaidah khusus yang rumit,justru tidak membuat siswa (Tegal) mampu berbahasa Jawa dengan baik. Bahasa Jawa seakan-akan identik dengan bahasa asing. Rencana pemberlakuan kurikulum mulok bahasa Tegal, sudah selayaknya disambut positif oleh seluruh pemangku kebijakan pendidikan.Paling tidak bagi para siswa yang sejak lama mengeluhkan sulitnya mapel bahasa Jawa.
Memang masih ada kegamangan bahkan resistensi yang cenderung sinis terhadap rencana tersebut. Tidak saja faktor-faktor legalistik dan pranata teknis yang bakal menjadi kendala, tetapi masih adanya anggapan klasik dan stigmatisasi negatif masyarakat dan orang tua siswa terhadap bahasa Tegal yang katanya “kasar, tidak baku dan tidak mengenal unggah-ungguh”. Belum lagi pertanyaan logis yang sering terlontar: sudah siapkah tenaga pengajar yang kompeten,buku ajar yang sesuai dan metoda yang efektif ?
Pembuatan perda,penyusunan kurikulum,penyediaan buku ajar dan guru pengampu tentu bukan hal yang sederhana. Sebagai produk hukum yang mengatur tata kelola penyelenggaraan pengajaran bahasa yang nota bene adalah poduk budaya, perda tentang kurikulum bahasa Tegal seyogyanya dirancang dengan sangat seksama. Azas manfaatnya dan filosofinya harus mencerminkan nilai-nilai warisan budaya dan kearifan lokal. Begitu juga penyusunan kurikulum yang dengan nyata menunjukkan tujuan secara umum dan khusus, meliputi pengertian dan ruang lingkup yang jelas.Pengajaran bahasa Tegal jangan malah mempersulit para siswa,yang pada gilirannya akan menjadikan mapel bahasa Tegal bernasib sama dengan mapel bahasa Jawa yang semakin dijauhi dan tidak diminati para siswa. Bahasa Tegal harus dikembangkan dalam kerangka menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa ibu tanpa menghilangkan ciri-ciri dan karakternya yang sangat khas.
Berbeda dengan bahasa Jawa yang sudah sejak lama dipelihara dipusat-pusat kebudayaan (baca keraton Surakarta dan Yogyakarta), melalui lembaga-lembaga kesenian serta diajarkan di sekolah selama bertahun-tahun,bahasa Tegal tumbuh dan berkembang secara otonom ditangan para penuturnya. Bahasa Tegal yang lebih sering digunakan sebagai bahasa tutur dan pergaulan katimbang bahasa tulis, menyebabkan sampai saat ini tidak memiliki memiliki ejaan baku. Beragam kosakata dan idiom juga muncul dan hilang begitu saja tanpa sempat dicatat dan didokumentasikan.Kebiasaan berbahasa Indonesia dikalangan kaum muda juga bepengaruh dalam praktek fonetik. Sehingga sering terjadi kerancuan ucap antara [d] dalam kata adol (menjual) dan [dh] dalam kata endhog( telur). Bahkan ada yang samasekali tidak bisa mengucapkan fonem /th/ misalnya bathuk (dahi), karena fonem /th/ tidak ada dalam bahasa Indonesia.
Bahkan ternyata bahasa Tegal juga tidak memiliki kataganti orang yang bersifat jamak, seperti dalam bahasa Indonesia kami dan kita.Bahasa Tegal hanya mengenal enyong ( aku,saya) dan kowen (engkau,anda).Banyak sekali keunikan dan karakteristik bahasa Tegal yang hanya bisa difahami oleh penutur asli.Barangkali hal-hal semacam ini juga patut menjadi pertimbangan dalam menyusun kurikulum dan buku ajar.Dibutuhkan sebuah lembaga bahasa (Tegal) yang mumpuni,berwibawa dan dipercaya (credible) untuk bisa menjadi rujukan,agar kelak tidak menimbulkan masalah bahasa dan kerancuan budaya.
Kurikulum mulok bahasa Tegal semoga tidak hanya wacana.Untuk mewujudkannya diperlukan kemauan baik dan komitmen dari pelbagai unsur dan stakeholder : eksekutif,
legislatif,kalangan pendidikan,budayawan,para pakar dan praktisi ,para pemerhati dan pecinta bahasa Tegal. Semuanya harus berembuk dengan semangat dan ideologi yang sama. Barangkali agar gagasan mulia tersebut tidak keburu basi, maka kurikulum mulok bahasa Tegal dengan sarana yang ada mulai diuji cobakan dibeberapa sekolah Kalau menunggu terbitnya perda yang sudah dipastikan akan sangat lama,maka sebagai payung hukum, sementara cukup dengan SK Walikota saja. Nah anak-anak, selamat belajar bahasa Tegal !

Iklan

About ccvcku

Hadi Utomo,Lahir di Kecamatan Subah ( Kabupaten Batang - Pekalongan) 26 Januari 1939. Sekolah Rakyat dibeberapa tempat,kemudian tamat SMP Negeri Brebes th.1954 dan SMA Bag.B/Negeri di Pekalongan yh.1958. Sempat kuliah di PTP (Perguruan Tinggi Publisistik) di Jakarta th.1960 selama beberapa tahun namun tidak tamat. Bekerja di pelbagai perusahan di Jakarta sampai tahun 1970.Kemudian pindah ke Palimanan (Kab.Cirebon) sebagai petani sampai tahun 1980. Tahun 1980 berpindah ke Tegal berganti profesi dibidang radio siaran swasta sampai sekarang. Sejak di SMA gemar menulis cerpen,puisi dan artikel.Tulisan-tulisannya banyak dimuat dimajalah dan surat kabar a.l.Kisah,Sastra,Horison,Merdeka,Abadi,Berita Minggu,Duta Masyarakat dll). Salah satu cerpennya dimuat di Kumpulan Cerpen Indonesia III (Gramedia ed.Setyagraha Hoerip,1986.Sampai sekarang masih giat menulis dibeberapa media lokal dan mengelola program radio sambil sesekali membuat jingle iklan dan lagu-lagu daerah Tegal. Motto Hidup : Berguna Sampai Tua

Posted on Maret 14, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: