Monthly Archives: Maret 2010

Perlawanan dan Kenekatan.

Kompas edisi Minggu 14 Maret 2004, mengekspose secara eksklusif makna dua kata “heroik”, yang pernah dimiliki oleh sastrawan dan teater Tegal yakni : Perlawanan dari Tegal (hal.1) dan Kemana Perginya Kenekatan itu? (hal.31).
Kita kutip (hal.31) : Namun,gaung kegiatan sastra dan teater di Tegal itu seperti mati suri, setelah paruh kedua 1990-an hingga saat ini.Kiprah para sastrawan dan dramawannya tertutup oleh para pelawak yang membawa idiom – idiom Tegalan untuk olok-olok dan lucu-lucuan di panggung televise nasional.Teater RSPD pun yang pernah menjadi penggerak aktifitas teater di Tegal sudah sejak 1997 tak pernah lagi menggelar pentas di luar Tegal.
Sastrawan Afrizal Malna, yang dekat dengan komunitas sastra di Tegal, melihat ada potensi besar yang stagnan, dan tak tergarap selama beberapa tahun terakhir ini.”Tidak tahu kenapa,Tegal punya potensi besar, tetpi selama 15 tahun tidak bergerak”, kata Afrizal saat menghadiri diskusi sastra di Tegal, Rabu (10/3).
Padahal,menurut Afrizal, bahasa Tegal dan ekspresi khas masyarakatnya adalah potensi besar yang tidak dimiliki daerah lain.”Bahasa tegal memiliki energi dan kekuatan besar, yang menunjukkan adanya etos kerja masyarakat yang kuat.Berbeda dengan bahasa Jawayang sudah jadi persuasif, ”imbuhnya.
Para seniman Tegal berkilah, hilangnya mereka dari pentas nasional, adalah suatu kewajaran karena mereka memang tidak pernah mengejar keselebritisan semacam itu.
“Kami memang sama sekali tidak ingin terkenal seperti itu.Yang penting kami sudah menjalankan kewajiban sebagai seniman,yakni berekspresi,” tutur musisi dan penulis Joshua Igho BG (40) mewakili teman-temannya dalam sebuah diskusi di Gedung kesenian Kota Tegal,Februari lalu.
Ibarat tiba-tiba ada orang luar yang melongok ke dapur kita, ekspose Kompas membuat kita bertanya : Adeeeerrrr? (bahasa Tegal, maksudnya : Apa iyaaaa?). Mari kita berfikir positif : anggap saja ekspose Kompas sebagai pemicu agar sastrawan Tegal tidak merasa (sudah) besar dan puas dengan pencapaiannya. Kita tidak sadar bahwa selama ini kita hanya mengulang-ulang kesuksesan masa lalu.Kita hanya mengerjakan hal2 yang rutin dan biasa kita lakukan selama bertahun2.Pentas monolog,lomba baca puisi,pentas musik yang itu2 saja,Bahkan kita sudah terjebak dalam kegiatan2 yang diluar kreatifitas, misalnya ribut2 soal anggaran,berebut posisi dalam pendekatan kepada birokrasi dsb.Kita tidak pernah memiliki lagi élan vital(semangat kreatifitas) sedahsyat dulu ketika kita masih muda2.Kita tidak pernah lagi bergelut dan melahirkan gagasan2 besar (big ideas).Sementara jaman sudah berubah.Revolusi di bidang teknologi informatika, kemajuan industri media,kapitalisasi semua sektor kehidupan termasuk senibudaya,.membuat kita gagap dan bertanya2 : dimanakah posisi kita sebagai seniman dalam era persaingan industri kreatif ? Siapa lagi yang masih memiliki keberanian dan kenekatan ? ***

Menanti Kurikulum Pelajaran Bahasa Tegal.

SAMBIL memeringati Hari Bahasa Ibu Internasional tanggal 21 Pebruari, kita layak mengapresiasi pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Kota Tegal yang akan menjadikan bahasa Tegal sebagai kurikulum muatan lokal (SM 29/1). Bahasa Tegal adalah salah satu dari sekitar 700-an bahasa ibu yang (masih) ada di Indonesia. Secara psikologis bahasa Tegal sudah tertanam didalam pikiran anak-anak yang lahir dan dibesarkan di wilayah ini.Secara sosial bahasa Tegal adalah sarana komunikasi dan ekspresi jatidiri “wong” Tegal yang telah berlangsung turun temurun. Salah satu rekomendasi Kongres Bahasa Tegal I (4 April 2006) adalah pembudayaan bahasa Tegal melalui strategi kurikuler. Selama ini sesuai dengan SK Gubernur No.895.5/01/2005 untuk siswa SD/SMP/SMA wilayah Jawa Tengah diberlakukan kurikulum bahasa Jawa sebagai muatan lokal (mulok). Namun bagi siswa yang sehari-hari berbahasa Tegal, pelajaran bahasa Jawa (baku) dirasakan sangat sulit bahkan menjadi momok yang menakutkan. Berdasarkan pengamatan penulis, kebanyakan siswa tidak menguasai materi yang diajarkan. Mata pelajaran (mapel) bahasa Jawa dengan segala bentuk kaidah-kaidah khusus yang rumit,justru tidak membuat siswa (Tegal) mampu berbahasa Jawa dengan baik. Bahasa Jawa seakan-akan identik dengan bahasa asing. Rencana pemberlakuan kurikulum mulok bahasa Tegal, sudah selayaknya disambut positif oleh seluruh pemangku kebijakan pendidikan.Paling tidak bagi para siswa yang sejak lama mengeluhkan sulitnya mapel bahasa Jawa.
Memang masih ada kegamangan bahkan resistensi yang cenderung sinis terhadap rencana tersebut. Tidak saja faktor-faktor legalistik dan pranata teknis yang bakal menjadi kendala, tetapi masih adanya anggapan klasik dan stigmatisasi negatif masyarakat dan orang tua siswa terhadap bahasa Tegal yang katanya “kasar, tidak baku dan tidak mengenal unggah-ungguh”. Belum lagi pertanyaan logis yang sering terlontar: sudah siapkah tenaga pengajar yang kompeten,buku ajar yang sesuai dan metoda yang efektif ?
Pembuatan perda,penyusunan kurikulum,penyediaan buku ajar dan guru pengampu tentu bukan hal yang sederhana. Sebagai produk hukum yang mengatur tata kelola penyelenggaraan pengajaran bahasa yang nota bene adalah poduk budaya, perda tentang kurikulum bahasa Tegal seyogyanya dirancang dengan sangat seksama. Azas manfaatnya dan filosofinya harus mencerminkan nilai-nilai warisan budaya dan kearifan lokal. Begitu juga penyusunan kurikulum yang dengan nyata menunjukkan tujuan secara umum dan khusus, meliputi pengertian dan ruang lingkup yang jelas.Pengajaran bahasa Tegal jangan malah mempersulit para siswa,yang pada gilirannya akan menjadikan mapel bahasa Tegal bernasib sama dengan mapel bahasa Jawa yang semakin dijauhi dan tidak diminati para siswa. Bahasa Tegal harus dikembangkan dalam kerangka menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa ibu tanpa menghilangkan ciri-ciri dan karakternya yang sangat khas.
Berbeda dengan bahasa Jawa yang sudah sejak lama dipelihara dipusat-pusat kebudayaan (baca keraton Surakarta dan Yogyakarta), melalui lembaga-lembaga kesenian serta diajarkan di sekolah selama bertahun-tahun,bahasa Tegal tumbuh dan berkembang secara otonom ditangan para penuturnya. Bahasa Tegal yang lebih sering digunakan sebagai bahasa tutur dan pergaulan katimbang bahasa tulis, menyebabkan sampai saat ini tidak memiliki memiliki ejaan baku. Beragam kosakata dan idiom juga muncul dan hilang begitu saja tanpa sempat dicatat dan didokumentasikan.Kebiasaan berbahasa Indonesia dikalangan kaum muda juga bepengaruh dalam praktek fonetik. Sehingga sering terjadi kerancuan ucap antara [d] dalam kata adol (menjual) dan [dh] dalam kata endhog( telur). Bahkan ada yang samasekali tidak bisa mengucapkan fonem /th/ misalnya bathuk (dahi), karena fonem /th/ tidak ada dalam bahasa Indonesia.
Bahkan ternyata bahasa Tegal juga tidak memiliki kataganti orang yang bersifat jamak, seperti dalam bahasa Indonesia kami dan kita.Bahasa Tegal hanya mengenal enyong ( aku,saya) dan kowen (engkau,anda).Banyak sekali keunikan dan karakteristik bahasa Tegal yang hanya bisa difahami oleh penutur asli.Barangkali hal-hal semacam ini juga patut menjadi pertimbangan dalam menyusun kurikulum dan buku ajar.Dibutuhkan sebuah lembaga bahasa (Tegal) yang mumpuni,berwibawa dan dipercaya (credible) untuk bisa menjadi rujukan,agar kelak tidak menimbulkan masalah bahasa dan kerancuan budaya.
Kurikulum mulok bahasa Tegal semoga tidak hanya wacana.Untuk mewujudkannya diperlukan kemauan baik dan komitmen dari pelbagai unsur dan stakeholder : eksekutif,
legislatif,kalangan pendidikan,budayawan,para pakar dan praktisi ,para pemerhati dan pecinta bahasa Tegal. Semuanya harus berembuk dengan semangat dan ideologi yang sama. Barangkali agar gagasan mulia tersebut tidak keburu basi, maka kurikulum mulok bahasa Tegal dengan sarana yang ada mulai diuji cobakan dibeberapa sekolah Kalau menunggu terbitnya perda yang sudah dipastikan akan sangat lama,maka sebagai payung hukum, sementara cukup dengan SK Walikota saja. Nah anak-anak, selamat belajar bahasa Tegal !