Monthly Archives: Desember 2009

Orasi Budaya : Seniman dan Banalisasi Kebudayaan

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Kebranian menjadi cakrawala
Dan perjuangan
Adalah pelaksanaan kata-kata
……………………
Inilah sajakku,pamflet masa darurat
Apakah artinya kesenian,bila terpisah dari derita lingkungan
Apakah artinya perpikir,bila terpisah dari masalah kehidupan
……………………

( WS Rendra)

Banalisasi atau pendangkalan makna sedang melanda Kebudayaan kita.
Makna Kebudayaan sebagai upaya manusia untuk meningkatkan nilai dan mutu peradabannya serta upaya mengatasi tantangan alam dan jaman, dinegeri ini terus menerus direduksi dan dibanalisasi. Kebudayaan makin dipinggirkan, disepelekan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Kebudayaan disederhana-
kan maknanya menjadi kesenian. Kesenian dimudahkan menjadi pertunjukan. Dan pertunjukan diidentikkan dengan hiburan.Pemeliharaan dan pengembangan
kebudayaan yang dimanatkan oleh ps.32 UUD, ternyata sejak 10 tahun y.l. diserahkan kepada otoritas yang bernama pariwisata. Menurut mereka, kesenian adalah bagian dari industri pariwisata dan bukan anak kandung kebudayaan. Oleh karenanya pengembangan dan pemeliharaan kesenian dengan mudah dicampuradukkan dengan bidang-bidang lain yang samasekali tidak berkait dan bertalian.Urusan kebudayaan yang mereka sebut dengan istilah seni budaya, diurus satu atap dan satu meja dengan pariwisata dan olahraga, bahkan perhubungan,komunikasi dan informasi.

Wacana mengenai Kelembagaan Kebudayaan dalam pemerintahan sebenarnya sudah muncul sejak awal kemerdekaan.Dalam Musyawarah Kebudayaan di Sukabumi 31 Desember 1945, sejumlah budayawan mengusulkan dibentuknya Kementerian Kebudayaan.Keinginan ini dilanjutkan lagi dalam Kongres Kebudayaan 1948 di Magelang. Karena usul tak kunjung dipenuhi,maka usul tersebut terus dikumandangkan dalam Kongres Kebudayaan tahun 1951,1954,1957,1991,2003 dan terakhir 2008. Namun yang terjadi justru penggabungan Kebudayaan dengan Pariwisata (1999, jaman Abdurahman Wahid). Para budayawan sudah menolak penggabungan tsb. Karena dinilai mengerdilkan arti dan peran kebudayaan.Penolakan para budayawan didasari alasan karena kebudayaan akan memiliki pengertian komersial. Padahal kebudayaan harus menjadi napas dari sistem pemerintahan yang demokratis untuk membangun karakter manusia Indonesia.

Bahkan setelah 64 tahun merdeka ternyata kita tidak pernah memiliki Strategi Kebudayaan. Strategi Kebudayaan tidak sekadar pengelolaan cara berfikir suatu bangsa, namun sekaligus cara bertindak dan bereaksi, yang menjadikan wacana politik mampu menjadi daya produktifitas sebuah bangsa. Kebudayaan selayaknya menjadi daya hidup dalam berbagai aspek berbangsa dan bernegara.Sebutlah misalnya aspek pengelolaan budaya kreatif yang meliputi pelbagai cabang kesenian,budaya sains dan teknologi,budaya baca,pendidikan budi pekerti (perilaku baik), dsb. yang diyakini mampu mendorong terciptanya nilai2 positif,nilai2 luhur di masyarakat ,sesuai dengan cita2 bangsa. Kita menjadi semakin sulit menemukan wajah budaya kita. Wajah kebudayaan yang mencerminkan kebinekaan,kemajemukan toleransi dan keluhuran budi pekerti. Sehari-hari kita kita disuguhi pertunjukan teater negeri dan tanah air yang primitif tidak bermutu dan memuakkan.Hiruk pikuk perpolitikan ditengah-tengah kemiskinan yang semakin menghimpit, perebutan kekuasaan, kekerasan dan penindasan. Sementara pelaksanaan hukum dan keadilan menjadi barang mahal. Hukum menjadi sangat kuat bagi orang lemah, dan sangat kemah menghadapi orang kuat. Korupsi ,watak culas dan ketidak jujuran,malas berfikir dan hanya mencari jalan pintas, kehilangan empati dan rasa kesetiakawanan, bukanlah wajah kita yang sesungguhnya.Fenomena semacam ini akibat dari tidak adanya landasan Kebudayaan dalam pengelolaan negara. Kebudayaan seharusnya menjadi landasan hidup dalam menangani pelbagai masalah bangsa. Sementara itu kesenian sebagai salah satu produk utama kebudayaan, diposisikan hanya sebagai alat atau sumber eksploitasi kepentingan ideologi, politik, atau industri.

Dewasa ini kebijakan pemerintah dibidang kebudayaan justru mendorong para seniman masuk kedalam sistem ekonomi yang disebut industri kreatif. Ada 14 bidang industri kreatif :1.Periklanan 2.Arsitektur 3.Pasar Seni & Barang Antik 4.Kerajinan 5.Disain 6.Disain Fesyen 7.Video,Film dan Fotografi 8.Permainan Interaktif 9.Musik 10.Seni Pertunjukan 11.Penerbitan dan Percetakan 12.Layanan Komputer dan Piranti Lunak 13.Televisi dan Radio 14.Riset dan Pengembangan.

Hal itu lebih mempertegas bahwa kebudayaan kita sudah masuk kedalam jebakan ekonomi dan kapitalisme. Inilah sebuah realita yang tak terhindarkan dimana industri telah menjadi bapak angkat kesenian.Dimana sebuah karya (seni) dimaknai sebagai produk (seni) dan nilai (seni) menjadi harga (seni). Para penikmat dan apresian seni ,semata2 dianggap sebagai pasar (market) seni. Yang terjadi kemudian adalah transasksi2 bisnis, yang semakin menjauhkan seni dari rumah kebudayaan. Kita tidak lagi bicara tentang kreatifitas, tetapi trend pasar. Novel harus jadi film. Teater harus jadi sinetron. Sajak harus jadi lirik lagu pop atau jingle iklan. Seni Sastra sebagai cabang kesenian yang sangat dekat dengan khalayak dan sudah berpuluh bahkan beratus tahun dapat dinikmati melalui buku-buku dan media masa pun sudah lama bermetamorfosa.Budaya baca berubah menjadi budaya tonton dan budaya dengar. Puisi tidak lagi menjadi bahan renungan dan dibaca dikamar sepi. Buku Kumpulan Puisi dan Antoloji Puisi menjadi semakin berdebu di rak perpustakaan maupun toko-toko buku. Puisi harus dikemas ulang setelah bertahun2 tampil sebagai seni deklamasi, seni baca puisi (poetry reading), musikalisasi puisi. Dan kini, dengan cara apa lagi kita harus mengemas puisi agar tidak ditinggalkan para pecintanya.

Sementara itu Kesenian akan terus hidup dan bergerak sesuai dengan kodrat dan dinamikanya. Dia tidak akan mati,hanya rehat sejenak untuk bermetamorfosa.Sastrawan hanya mengganti pena dan kertas dengan komputer sebagaimana para pujangga terdahulu mengganti daun lontar dengan kertas dan mesin cetak. Teknologi informasi dan komunikasi telah melahirkan industri media yang global dan kapitalis. Seniman dan pekerja seni bersaing dalam pasar bebas. Akibatnya terjadi adalah kesenjangan sosial ekonomis diantara para seniman. Semakin banyak seniman yang terjebak dalam dilema dengan pilihan2 yang semakin sempit. Berhenti berkarya atau meneruskan ”kesenimanannya” dengan segala resiko dan konsekwensinya. Agar bisa bertahan, banyak seniman yang menggeluti profesi lain sambil terus berkarya. Menjadi penyiar radio,wartawan,penulis naskah iklan, bahkan menjadi PNS, perangkat desa, karyawan swasta dsb. Namun produktifitas kreatif mereka sudah tentu terhambat. Sebagian lagi masih terus bertahan sebagai pekerja seni yang puritan dan gagah berani. Yang lebih menyedihkan, komunitas seniman dianggap sebagai komunitas marjinal, yang hanya membuat gaduh dan mengganggu stabilitas. Pertanyaannya : dimanakah posisi para seniman, dan masih adakah tempat yang nyaman bagi mereka ?

Dalam kondisi semacam itu seolah2 pemerintah telah berbuat sesuatu untuk kesenian dan para senimannya. Begitu juga dalam pelaksanaan otonomi daerah, dimana ps.22 (m) UU Otonomi Daerah No.32/2002 , dari 15 point kewajiban Pemerintah Daerah disebutkan a.l. bahwa Pemerintah Daerah berkewajiban melestarikan nilai sosial budaya. Kewajiban yang sangat sederhana hanya 4 kata, namun implementasinya menjadi absurd, karena kata-kata dalam UU tersebut sulit dicerna dan dipahami oleh para pemegang dan pengambil keputusan di daerah. Dengan sekelumit alokasi APBD , maka dibentuklah Dewan Kesenian di daerah yang merupakan adopsi dari Dewan Kesenian DKI. Dengan langkah sederhana tersebut diharapkan kewajiban mulia untuk melestarikan nilai sosial budaya sudah terpenuhi. Padahal DK-DKI yang dibentuk jaman Ali Sadikin 4o tahun yl. sudah ketinggalan jaman, dan tidak lagi mampu mengakomodasi hasrat kesenian yang dinamis dan terus bergerak.Dewan Kesenian di daerah telah memunculkan birokrasi baru yang seringkali justru menimbulkan pelbagai friksi dikalangan seniman. Apalagi pertanggung jawaban pengurusnya hanya dari segi penggunaan anggaran, tanpa menyentuh seberapa besar pencapaian2 kultural dan prestasi artistik selama periode kepengurusannya. Oleh karena itu melalui wacana ini,diharapkan adanya kebijakan baru,visi baru, dalam menangani pengembangan kesenian di daerah. Bukan melalui kebijakan pembinaan, karena sejatinya kesenian adalah perilaku kreatif yang tumbuh dan berkembang secara alami di tengah-tengah masyarakat. Kreatifitas seni tidak bisa dibina, tetapi dirangsang melalui penyelenggaraan lomba,festival,diskusi, dan event2 kesenian yang rutin dan teragenda. Pemberian Anugerah Seni bagi seniman berprestasi adalah salah satu cara merangsang kreatifitas disamping memberikan penghargaan yang layak atas pengabdiannya.

Oleh karenanya pada hari ini, saat kita bisa berhimpun dalam komunitas kesenian yang solid dan penuh gairah ini, marilah kita terus pertanyakan : dimanakah posisi kita yang sebenarnya….adakah kehadiran kita masih diperlukan oleh bangsa dan tanah air ini ?

Kita menyandang tugas
Karena tugas adalah tugas
Bukannya demi sorga atau neraka
Tapi demi kehormatan seorang manusia
…………………
Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
Bekerja membalik tanah
Memasuki rahasia langit dan samodra
Serta mencipta dan mengukir dunia
…………………..
(WS.Rendra)

Slawi, 27 Desember 2009
Disampaikan dalam Gelar Budaya
Tutup Taun 2009/Mapag Taun 2010
Yang diselenggarakan oleh
Pesisir Foundation
di Lebaksiu Park
Slawi

.

Monolog Tegalan N G A B L U

Sang tokoh adalah seorang anggauta Dewan bernama Drs.Jawul Saputra SH MM alias JS. Sebagai seorang anggauta dewan yang terhormat ia selalu tampil trendy. Setelan safari,lengkap dengan lencana, menjinjing tas laptop dan setumpuk map, berkas2 dan juga koran2.. Dikantongnya ada beberapa HP yang selalu berdering….

1. JS memasuki panggung yang diimaginasikan sebagai ruang kantor. Wajahnya murung,tegang dan menahan sakit.Telinga kanan JS tertutup perban dan plester yang lebar hingga menutupi telinga dan sebagian pipinya. Ia duduk menghempaskan pantatnya dikursi. Tangannya mengepal lalu ditiup-tiup dan ditempelkan ketelinga kanannya yang diperban.Berkali2 sembari meringis kesakitan. Ya..telinga tokoh kita memang ”lagi” tuli sebelah. Selama bermain, JS sering melakukan itu, dan ini menjadi satu gerak yang khas selama monolog berlangsung. JS membuka laptop,membuka berkas2. Tiba2 HP-nya berdering….

Rebyeg..rebyeg…Dadi anggota dewan pancen repot nemen. (mengangkat HP ketelinga kanan,ternyata tidak kedengaran. Ganti ketelinga kiri). Ya haloh..JS Kiyeh…O,pak Ketua..?Dina kiye rapat dengar pendapat? Okeh..okeh..siap. O iya..ketemu karo para seniman…? Wis pada teka ? Gemrudug ? Janjine kan jam sepuluh..Lha Ketua Dewan Keseniane ora teka ?. Aturane kan dengar pendapat cukup karo pengurus Dewan Kesenian..Ya wis,kongkon pada orasi mbuh maca puisi sawarege. Seniman kan kan angger dikon maca puisi, berag nemen…Ngadepi seniman aja panik…tenang. Serahna bae maring JS….maksude Jawul Saputra…Dudu LS……LS tah bekas wartawan koran bangkrut..Haha….(tertawa ngakak)..Okeh Pak Ketua…sedelat aku mono. Salam lekum..

2. JS menutup HP, kembali menatap penonton, geleng2 kepala.Mringis.

Rebyeg…rebyeg… Ketemu seniman bae ka runtag. Kiyeh..Bung JS alias Jawul Saputra !! (menepuk dada, bersiri,mondar mandir) . Pancen… Anggota dewan sing paling ngarti aspirasi seniman ya mung nyong tok. Seniman kuwe kudu diregani, dirangkul. Aja dimusuhi. Apa sih butuhe seniman ?. Seniman kuwe, mung butuh sarana. Sarana kanggo meng-ekspresikan karya2ne. Gedung Kesenian sing representatip… wis tak usulna. Taman Budaya sing megah…wis tak usulna. Anggaran nggo Dewan Kesenian njaluk munggah…ya wis tak usulna. Tapi dasar seniman, susah diatur. Egone duwur. Wis ana Dewan Kesenian ya malah tukaran dewek..

1

3. JS duduk lagi menyulut rokok. Menghisap dalam2. Membuka koran, membalik2 cari berita. Kemudian membaca pelan2 dengan suara mantap.

Coba.Saben koran pada ngalem aku kabeh…Judul beritane bae asik nemen.
”Drs.Jawul Saputra SH MM (JS) , mendapat sambutan hangat dan meriah…. Anggauta dewan dari Partai MOCI atau partai membela orang cilik saat berkunjung ke lokalisasi di kawasan Mangga Indah,mendapat sambutan meriah dari sekitar 100 PKS dan Mucikari. Maksud kunjungannya adalah untuk ”jaring asmara” atau menjaring aspirasi masarakat.Dalam hal ini masarakat PSK yang sering menjadi korban kejahatan lelaki hidung belang.Didepan puluhan PSK dan mucikari,Drs.Jawul berjanji akan memperhatikan nasib para PSK tersebut.Diantaranya menaikkan tarif servis dan pengobatan gratis bagi para PSK yang ketularan sakit kelamin. Para PSK yang merasa senang atas kunjungan tersebut, memberikan kenang2an kepada Drs.Jawul berupa pembacaan puisi Rendra yang berjudul ”Bersatulah Pelacur-pelacur di Jakarta” yang sudah diterjemahkan Tambari Gustam dalam Bahasa Tegalan ”Dadia Siji Tlembuk-tlembuk neng Jakarta”

Dadiya siji tlembuk-telembuk neng Jakarta
sing klas gedongan nganti klas selawé rubuh
wis didombrèng, wis diuber-uber, lan diubek-ubek
kabèh pada pucet, kèder, diina sampe rainé abang ireng kisinen

Kenang apa getun, apa sing kudu di getuni… nok
ora usah digetuni
kyèh, kowen aja gelem digabrud terus-terusan…

Luar biasa…WTS bae bisa mengapresiasi puisine Rendra.Tapi donge tah sing kaya kiye ora usah dimuat ya…Dasar wartawan ngablu. Apa korane sing ngablu….??

4. Telpon berdering lagi. Seperti biasa JS salah menempelkan HP ditelinga kanan.

Ya haloh..Priben Pak Ketua ? Seniman pada ngamuk ? Waduh..waduh..cilaka kuwe tah.Tuntutane apa maning ?.Dewan Kesenian njaluk dibubarna ? Wah..kuwe tah ora masuk akal. Lha terus karepe kepriben ?. Kan anggaran nggo taun ngarep wis tak usulna….munggah 50%… Maaf pak..aku ora bisa mono. Kiye kupinge nyong. Iya, kumat maning..budeg.. sing tengen…aduh, kaya kiye angger kumat cekot2…aduhhh…Wis kaya kiye bae. Sampeyan ngomong bae karo seniman2 kuwe, kaya kiye : Molai taun ngarep pan diusulna maring Pemrentah supaya saben taun dianakna Anugerah Seni. Dadi seniman sing berprestasi, mbuh teater,sastra,tari,musik lan sejen2ne…bakal olih anugrah masing2 10 juta….Angger sampeyan ngomong kaya kuwe, tak jamin seniman2 pada bubar…Aduuuuh, maaf ya kupinge nyong cekot2..Salam lekum…
2

5. JS terus memegang kuping kanannya,mengaduh,merintih kesakitan…

Aduuuh, kaya kiye temen larane..Mangkane sing arane kuping kuwe penting nemen. Apa maning nyong sebagai wakil rakyat.Angger kupinge budeg siji toli kepriben… aduuh. Ana rapat dengar pendapat, ana uang dengar,kan kudu nganggo kuping? Heh ! Kowen ngarti ? (mengarah penonton) Sebabe apa kupinge nyong dadi kaya kiye ? Kiye gara2ne nyong melu studi banding. Tapi…akh angger tak critakna tah ora pantes.Saru….! Porno….! Bisa2 nyong kejiret UU Pornografi. Terus angger kasus kiye menyebar, bisa heboh.Ngluwihi Skandal Bank Century.Yakin…Tapi ..demi kebebasan mengeluarkan pendapat sing dijamin UU, nyong kudu crita maring kowen kabeh…Tapi tulung. Rahasia kiye aja sampe dibeberna nang masarakat…

6. JS menarik napas panjang, sejenak berhenti bicara, kemudian pelan2 berkata lagi denga gaya orang bercerita.

Sawijineng dina,telung wulan sadurunge nyong nyaleg utawa nyalon dadi anggota dewan…nyong nyepi nang kuburane mbah buyute nyong sing dikenal sebagai wong sakti. Critane nyong lagi luru wangsit. Bisa apa ora nyong kepilih dadi anggota legislatif.Gelisen crita nyong oli wangsit yen nyong bakal kepilih. Tapi,nyong keblaen.Lagi turu nang kuburan kuwe, kupinge nyong sing tengen kanjingan orong2….Ternyata, si orong2 kuwe nyokot kendang telingane nyong nganti rodal radil.Akhire nyong budeg sebelah.

Untunge, bareng nyong wis dadi anggota dewan, nyong bisa berobat maring luar negeri. Yakuwe maring Sovyet.Nang kana kupinge nyong dioprasi daning profesor ahli kuping sing terkenal,arane prof.Ontolohod. Profesor kiye ternyata gemiyen tau praktek nang Tegal, dadi bisa bahasa Tegal.Alkhamdulilah kuping tengene nyong sing maune budeg dadi waras. Sing nyong eram,bar dioprasi Prof.Ontolohod,kuping tengene nyong dadi peka nemen. Wong ngomong wisikan sing kadohan bae nyong bisa krungu.

JS menarik napas panjang lagi. Bicaranya memelas.

Tapi wingi2…nyong bener2 ketiban musibah.Lagi dewan kungker nang Bali…
nyong nginep nang hotel…turune bareng sakamar karo …karo..akh nyong ora tega ngomongna kancane dewek…nyong turu bareng karo Mas Growol Wijaya…kowen weruh oya..?? Mas Growol kae sing partai anuk…sing wonge gede duwur karo terkenal tukmis…
Bengi kuwe…nang kamar hotel…akh…nyong ora ngira, jebule Mas Growol kuwe…pria…penyuka sesama jenis alias….gay…Pokoke,bengi kuwe nyong di-per-ko-sa…Mung bae, nyong eram nemen. Sing dadi sasaran nafsu setane Mas Growol ..maaf..dudu anuke enyong, tapi kuping tengene nyong…Akibate..kowen weruh dewek…kupinge nyong dadi kaya kiye…addduuuhhh…
3

7. JS mengusap2 telinga kanannya yang diplester…sambil…merintih…
Tiba2 tangan kirinya mengambil HP, memencet nomer..dan beberapa detik ke-mudian….

Hello..Profesor Ontolohod..?? Ya ini Jawul Saputra from Indonesia. begini Prof..ya,kuping kanan saya yang tempohari dioprasi sama njenengan…kena musibah prof..Kekerasan seksual Prof…Kenapa prof ? Ooo, Jadi tempohari yang dipasang ditelinga saya bukan selaput kendang telinga prof ? Haaah….? Selaput Dara ?? Pantesan…Mas Growol jadi terangsang…Ya Prof…masih sakit prof…malahan berdarah…Haaaah…? Tidak boleh pakai perban biasa? Jadi ? Harus pakai Softex…?? Aduuuuh….tuluuuuuuung nyong tokokna Softeeeeeex….

T A M A T

Adiwerna, 15/XII/2009
(Naskah ini diilhami dari sebuah Anekdot
Yang tidak diketahui sumbernya.MHU)

Nasib Sastra Tegalan Ditangan Para Aktor.

Saya masih ingin mencatat sekitar hari Sastra Tegalan (ST) yang diperingati di Lembah Agro Kamis (26/11) yl.Tampilnya para pembaca Puisi Tegalan (PT) dengan pelbagai gaya teatrikal yang ”dahsyat” (istilah LS) , meneguhkan kepada kita, bahwa sejatinya ST lebih dekat kepada Teater katimbang Sastra. Sayangnya 2 ”master monolog” Apito dan Eko Tunas tidak hadir dalam hajatan tsb.Selama kurun waktu 9 bulan sejak peluncuran Antoloji Ngranggeh Katuranggan dipendopo Sebayu (12/3/09) saya tidak mencatat adanya kemajuan berarti dalam penulisan ST. Jangankan novel,cerdhek, atau essay Tegalan, boleh dikata tidak satupun gurat (PT) yang lahir dari penulis di Tegal. Pertanyaannya : apakah PT sulit ditulis ? Sesulit apakah menulis PT ? Apakah para pengarang ST hanya menghasilkan karya berupa PT kalau diminta oleh editor untuk diterbitkan ? Saya sempat diskusi pendek dengan Tarjono (Lebe Penyair),mengenai mampetnya karya PT. Kesimpulannya : a. Kemampuan menulis ST masih rendah (kecuali beberapa orang a.l. Atmo,Tambari,Dwi Ery). b. Ketiadaan media yang mau memuat c. Sastrawan Tegal (mayoritas) berlatar belakang teater. Kesimpulannya lagi : ST hanya eksis sebagai kreatifitas akting, dan bukan sebagai kreatifitas tulis menulis. Apakah ST akan berkembang (kembali) menjadi sastra lisan, sebagaimana nenek-moyangnya dahulu ? Hanya Eko Tunas yang tahu…..Sekian catatan saya kali ini , sampai ketemu lagi……