Monthly Archives: Maret 2009

Catatan Budaya

moch1hadi-utomo-crop1Ngranggeh Katuranggan
Upaya Bersama Menunda Kepunahan

Oleh : M. Hadi Utomo

Disampaikan dalam Acara Peluncuran
Buku Kumpulan Gurat Tegalan NGRANGGEH KATURANGGAN
Pendopo Ki Gede Sebayu Tegal,12 Maret 2009

1. I n t r o (Membaca Gurat The Long and Winding Road)

Gurat atau puisi ini hampir saja tidak mungkin ku baca disini malam ini. Ketika gurat ini dan 2 gurat yang lain ku serahkan kepada editor NK (Ngranggeh Katuranggan) alias Sang Begawan , beliau menolak mentah2. Saat itu aku mendapat kritik pedas.
“Sampeyan itu sudah saya beri julukan budayawan, pakar Bahasa Tegal. Sampeyan juga salah seorang deklarator Sastra Tegalan (?). Sampeyan yang berkoar kemana2,bahkan kesegenap jagat maya, bahwa Gerakan Sastra Tegalan adalah sebuah Gerakan Budaya……. Tapi puisi sampeyan samasekali tidak bermuatan rokh Tegalan. Kreatifitas seni Sampeyan sudah terkontaminasi, sehingga gurat sampeyan kontroversial dan kehilangan warna Tegalan. Sampeyan tahu,antoloji ini kumpulan puisi dari tokoh2 terhormat dan para pejabat.Walikota,wakil walikota,ketua dewan,anggauta dewan,penyair2 kondang. Semuanya adalah representasi dari kebangkitan Sastra Tegalan.”
Dikritik habis2an oleh Sang Begawan membuat aku kecut.Padahal aku sangat berharap guratku bisa masuk dalam antoloji NK yang sangat prestisius. .Meski bukan penyair,tetapi memamerkan puisi dalam sebuah buku adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Meski juga aku tidak menerima honor.Karena sang editor sudah sejak awal dalam sms-nya mengatakan,ini adalah bentuk partisipasi,dadi langka honore.Apalagi penerbitnya adalah Tegal-Tegal, sebuah penerbit non profit yang sudah terkenal anti horor…(?)
Berhari2 setelah itu aku tenggelam dalam aktifitas apa yang oleh sang begawan disebut Gogoh Budaya Tegalan.Aku kembali merentang benang merah, antara Sastra Tegalan Ader Ana ? sebuah diskursus yang pernah mencuat 15 th.yl. dan mengaitkannya dengan pernyataan yang dilontarkan sang begawan,yaitu : budaya Tegalan dan rokh Tegalan dalam puisi. Kaya apa sih budaya Tegalan?. Adakah budaya Tegalan ?
Jika budaya dimaknai sebagai upaya2 manusia dalam meningkatkan martabat kemanusiaannya melalui perilaku kolektif sebagai kesepakatan bersama, maka pertanyaannya, perilaku kolektif dan upaya2 apakah yang telah dilakukan para leluhur masyarakat Tegal dalam meningkatkan martabat kemanusiannya ?
Jawabannya adalah : Bahasa Tegal. Bahasa Tegal adalah kesepakatan para leluhur kita, embah buyut canggah wareng kita, yang selama berabad2 melahirkan dan menggunakan sebuah bahasa yang khas,unik,berbeda,yang bernama Bahasa Tegal. Dan itu diwariskan turun temurun sebagai bahasa Ibu, sebagai sarana komunikasi dan pranata pergaulan.

2. N a r a s i
Ditengah2 hiruk pikuk – dihari2 yang sumpek menyaksikan deru deram sebuah budaya yang konon bernama demokrasi, kita melihat saudara2 kita yang lain – tengah berjalan terseok2 ditengah badai dan kegelapan yang tiada berujung. Berbondong mereka meneriakkan kata yang sama – sebuah narasi yang diulang2 sehingga basi dan membosankan.Mereka memamerkan wajahnya di pinggir2 jalan – wajah yang sama dan seragam – menawarkan janji yang sama dan selalu diulang2 sehingga basi dan membosankan. Ditengah2 hiruk pikuk dan kegaduhan berburu sebuah kata yang bernama kekuasaan – relakah kita menggadaikan kekayaan kita yang bernama etika dan estetika ?
Tapi biarlah. Karena malam ini, kita serasa berada di tempat yang lain. Ya,saat ini ketika kita semua larut dalam gairah berpuisi Tegalan,sejatinya kita tengah merasakan kehangatan pelukan seorang ibu. Bukankah bahasa Tegal adalah bahasa Ibu kita. Bahasa yang kita dengar pertamakali sesaat setelah kita menghirup udara kehidupan. Bahasa yang mengajarkan kita mengenal dan memahami dunia dan lingkungan kita.Bahasa Ibu adalah bahasa yang paling dekat,paling kuat berakar dalam diri seseorang.

Bahasa adalah karya tertinggi dari umat manusia. Bahasa bukanlah hanya sederet atau sekumpulan kosakata belaka.Bahasa adalah rumah kebudayaan dan ruang kesadaran bagi penuturnya. Ia menjadi sebuah tradisi panjang, dimana bersemayam ingatan kolektif tentang eksistensi sebuah komunitas.Setiap bahasa pastilah disusun sekata demi sekata selama ratusan tahun dan belasan abad oleh para leluhur. Bahasa Tegal yang tengah kita tampilkan malam ini adalah sebuah bahasa yang unik,berbeda,berkarakter. Ketika saya mengentri atau memasukkan kosakata untuk Kamus Tegalan yang tidak kunjung selesai,
saya sempat terkagum2 kepada para leluhur dan tetua kita saat memperoleh inspirasi untuk merekonstruksi sebuah gagasan menjadi sebuah kata. Begitu rinci dan teliti. Jika bahasa Indonesia hanya mengenal basah dan kering, teles dan garing. Antara teles dan garing kita mengenal kata cepel.Ada cebrik,becek,paluh,mblekuk dan seterusnya. Sebelum klenger atau pingsan,kita mengenal semineb.Ada kata njeglug dan jeglugan.Tetapi juga ada kata njeglong dan jeglongan. Hanya penutur asli Tegal yang bisa membedakan.Januk,januka,sanganuk,banuken,bulabula,kedimaha,kadehe,meyeg,doyong,nglethus,nglethis,nyigit,adalah sedikit dari ratusan katadepan yang belum berhasil saya terjemahkan dengan tepat. Bahkan saya menemukan sebuah kata bahasa Tegal yang hanya terdiri dari satu huruf (ee, yang berarti ya)
Memang bahasa Tegal tidak seluruhnya murni hasil karya para leluhur kita.Harus kita akui bahwa leluhur kita gagap memberi nama barang2 asing. (Contoh:sebuah sepeda). (Terimakasih simbah,mbah buyut,mbahcanggah,wareng,udeg2siwur , siapapun nama panjenengan,terimakasih leluhurku,engkau telah menciptakan sebuah bahasa untuk kami warisi begitu engkap,unik,spesial,laka2..yang engkau wariskan,dan sebentar lagi akan kami punahkan)
Punahnya suatu bahasa akan menyebabkan hilangnya berbagai bentuk warisan budaya,warisan tradisi dan ekspresi oral/bicara masyarakat penuturnya,sepertisajak,cerita,peribahasa,lelucon,wangsalan,suluk,mantra,tembang dan puji2an.Kepunahan sebuah bahasa, memang sebuah keniscayaan. Dari 742 bahasa di Indonesia, 169 diantaranya terancam punah karena penuturnya kurang dari 500 orang. Hanya 13 bahasa saja yang penuturnya lebih dari satu juta orang,termasuk diantaranya adalah Bahasa Tegal.
Cepat atau lambat Bahasa Tegal juga akan punah.Sebagaimana Bahasa Manx, yang dipakai penduduk kepulauan Manx di Inggris, yang punah pada th.1974 setelah Ned Maddrell penutur terakhir meninggal dunia.Sedangkan bahasa Eyak di Alaska punah setelah penutur terakhirnya Marie Smith Jones,meninggal pada tah.2008 yl.
Menurut ramalan saya Bahasa Tegal akan punah pada th.2109, setelah penuturnya yang terakhir meninggal dunia.Ternyata penutur terakhir Bahasa Tegal bernama Jawul Setiawan dan ia adalah cucu terakhir almarhum LS seorang begawan bahasa Tegal (?)**