Monthly Archives: Januari 2009

Ayo…Menulis Gurat alias Puisi Tegalan….!

Menulis itu mudah,kata Arwendo. Menulis puisi juga mudah. Apalagi menulis Puisi Tegalan alias Gurat. Kata wong Tegal…sipil. Buktinya banyak orang2 Tegal yang pada pintar menulis gurat. Bahkan diterbitkan menjadi buku kumpulan gurat alias antoloji. Yang sulit itu menulis puisi seperti Chairil Anwar,Rendra,Taufik Ismail, Sutarji ,Sapardi Djoko Damono, Gunawan Mohamad dan penyair2 lainnya. Jadi…? Ya jangan menulis seperti mereka. Menulis saja seperti saya dan teman2 yang lain. Ambil kertas dan bolpoin,merenung sebentar,langsung tulis. Atau pakai handphone,seperti kalau kita sms-an. Lebih mudah (sulit) mana,menulis gurat atau menulis puisi ? Tergantung. Ada orang yang tidak pernah menulis puisi,tiba2 bisa menulis gurat. Banyak juga yang bisa menulis dua2-nya. Bisa menulis puisi dan gurat sekaligus. Misalnya Atmo Tan Sidik,Dwi Erry Santoso,Apito Lahire, Lanang Setiawan,Tambari Gustam dll.

Bagi Anda yang belum akrab dengan dunia puisi,berikut adalah pendapat orang2 pintar tentang per-puisi-an.

“Kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi.Kata-kata tidak sekadar berperan sebagai alat penghubung antara pembaca dengan ide sang penyair, seperti kata-kata dalam bahasa sehari-hari, tetapi sekaligus sebagai pendukung imaji dan penghubung pembaca dengan dunia intuisi penyair.Hal inilah yang membedakanya dengan kata-kata dalam bukan puisi. Pengalaman puitik adalah sesuatu yang unik, dan keotentikannya hanya akan terjamin apabila penyair berhasil melahirkan bahasa yang unik.Ini bisa tercapai lewat eksperimen2 yang tekun……” (DR..Sapardi Djoko Damono,penyair dan Guru Besar Fakultas Sastra UI)
“Senikata (puisi) memang sesuatu yang aneh.Shklovsky,seorang formalis Rusia mengatakan bahwa ciri khas seni adalah the device of making it strange, sesuatu yang membikin aneh.Yang sederhana dijadikan aneh,yang mudah dipahami dirumuskan dengan berliku2,sehingga mengejutkan,bahkan mengelirukan.Maka itu banyak orang tidak suka puisi. Dalam sejarah sastra diseluruh dunia,dari jaman purba,ternyata manusia menciptakan puisi, dengan maksud,fungsi dan tujuan bermacam2 antara lain : keagamaan,sosial,individual.Justru “keanehan” menjadikan puisi mengesankan,sukar dilupakan,terpateri dalam ingatan. Dalam kebudayaan lesan justru puisilah cara pemakaian bahasa yang paling efektif untuk menyimpan tradisi yang berharga atau pengalaman yang hakiki dalam ingatan kolektif. Bukan sebuah kebetulan kalau wiracerita Homerus, kitab Veda dan Mahabharata, bahkan Al Qur’an sendiri diturunkan dalam bentuk puisi. Puisi adalah lumbung kekayaan rohani umat manusia. Diseluruh dunia,tidak ada bangsa atau suku bangsa yang tidak memiliki puisi….” ( Dr. A.Teew ,Kritikus Sastra)
Itulah pandangan orang2 pinter tentang puisi. Tapi Anda tidak usah pusing.Kalau Anda ingin menulis puisi atau gurat,tulis saja sesuai pandangan Anda sendiri.Setelah selesai menulis,terserah tulisan Anda mau diapakan.Dikirim ke media,diterbitkan sendiri,atau disimpan saja untuk dokumentasi pribadi,atau diposting di Blog.Ayooo…***

Iklan

70 Tahun….Alkhamdulillah…

Waktu terus berlalu.Usia merambat. Pelan tapi pasti. Tanpa terasa, hari ini 26 Januari 2009. Alkhamdulillah aku berusia 70 tahun. Banyak orang2 yang dikaruniai usia lanjut.Bahkan sampai 90 tahun atau lebih. Usia yang diberikan Tuhan (panjang atau pendek), betapapun wajib kita syukuri. Karena itu hari ini aku bersujud dihadapanMu seraya mengucap ….Syukur alkhamdulillah ya Allah…Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku untuk menyelesaikan tugas2ku didunia ini,sebelum pada saatnya Engkau akan memanggilku untuk menghadapMu.
Tidak ada yang spesial yang kulakukan hari ini. Selain bersyukur dan

(Sketsa oleh Agus Balapulang)

(Sketsa oleh Agus Balapulang)

sekedar merenung.Mencoba bercermin.Ya… 70 tahun bukan waktu yang pendek. 840 bulan atau 25.200 hari.Entah berapa juta langkah kaki ini berjalan membawa tubuhku. Aku tak mampu menghitungnya.Aku juga tidak pernah membuat rekapitulasi,adakah nilai tambah atau justru nilai kurang,setiap aku bertambah usia.Hidup ini mengalir saja. Dan ternyata sangat banyak yang aku dapatkan dari hidupku yang panjang itu.Tetapi kalau aku harus jujur, dari sekian banyak yang kudapatkan, ternyata bukan yang aku minta. Oleh karenanya aku takut untuk membuat kalkulasi,perhitungan,apalagi neraca. Sudahlah…aku cukup bersyukur dengan apa yang sudah Tuhan berikan selama ini. Aku memang bukan orang yang gemar bercita2 yang tinggi dan muluk2.Aku bukan tipe orang yang ambisius. Jangankan cita2. Sudah sejak berpuluh tahun yang lalu, sejak aku merasa sebagai orang dewasa, bermimpi saja aku tidak berani. Betul. Oleh karenanya aku tidak pernah memberi label apakah hidupku sukses atau gagal. Kecuali satu hal,yaitu kreatifitas sebagai komitmen yang selalu mengiringi kehidupanku.
Dalam hal kreatifitas, tahun yl. aku berkeinginan untuk menyelesaikan 2 pekerjaan, yakni Novel Tegalan Bapak dan Kamus Inyong (Kamus khusus Bahasa Tegal).Ternyata dua2nya tidak ada yang selesai. Novel Tegalan Bapak baru selesai bag.I. (Surat saka Bapa). Naskahnya sudah kutawarkan untuk dimuat bersambung di koran lokal,namun ditolak. Ya sudah,daripada aku simpan saja, akan kumasukkan di blog Dari Tegal untuk Sastra Tegalan. Siapa tahu ada yang berkenan membaca novel pertama dalam Bahasa Tegal. Begitu juga Kamus Tegalan. Meski sudah ada penawaran kerjasama dengan Universitas Kyoto Jepang untuk diterbitkan dalam bentuk online multilingual sevice di Internet (http://langrid.org) tapi ingin kurampungkan dulu dan bisa terbit sebagai buku cetak. Sebagian dari Kamus Inyong juga akan kumasukkan di blog Tegal Inyong 2009.
Ya ulang tahunku kali ini juga meriah karena bertepatan Hari Raya Imlek 2560. Juga dirayakan oleh peristiwa alam semesta yang fenomenal, yaitu Gerhana Matahari.
Apa maknanya….? Allah Maha Tahu. Yang penting, di tahun 2009 dan seterusnya , aku masih bisa terus menulis. Paling tidak di website-ku. Itupun kalau kalau aku masih mampu membayar langganan internet……???
(Terimakasih untuk teman2 seniman/sastrawan/penggiat dan pekerja seni serta sahabat2 yang telah mengirimkan ucapan selamat dan memberikan semangat untuk tetap kreatif dan memajukan Sastra Tegalan a.l..Dr.Maufur (Wakil Walikota Tegal),Atmo Tan Sidik,Lanang Setiawan,Swi Erry Santosa,081902441222 (?),Hartono Ch Surya,Diah Setyawati,Apito Lahire,Julis Nur Hussein,Yaskur Tarub, Mamet Bramanti,Ratna Madinah /Sorlem Community,dll),Saunan Rasyeed,081542061150 (?) dll. 26/1/09.

Dan Sastra (Tegalan) Pun Berdiaspora

Oleh : M.Hadi Utomo

Harian Kompas edisi Minggu (11/1/09) menurunkan tulisan setengah halaman lengkap dengan ilustrasi sebuah foto baliho (?) bernuansa sastra mengutip penggalan puisi penyair tua Sitor Situmorang. Tulisan tersebut berjudul “Dan Sastra Pun Berdiaspora”. “Ketika Kuli Jadi Novelis”. “Novelpun Diijon”.
Saya kutip : Lama sudah sastra menempati ruang sakral milik kalangan elite sastrawan yang menulis bak empu menempa keris. Ketika teknologi informasi kian canggih dan medan sosial makin terbuka,kini dunia penulisan mencair dan mengalami booming.Semua orang seperti keranjingan menulis,komunitas sastra bermunculan,buku2 terbit, dan internet diramaikan puisi atau cerpen.”Kami bermain-main dan bersenang-senang dengan puisi”, kata Yosi Febrianto (32) penggiat Komunitas Bunga Matahari (komunitas sastra online).Komunitas yang berdiri th.2000 itu kini membeludak dengan anggauta sekitar 1.700-an. Komunitas lain adalah FLP (Forum Lingkar Pena) yang didirikan th.1997 oleh Helvy Tiana Rosa yang mempunyai cabang di 125 kota termasuk yang di mancanegara mempunyai anggauta sekitar 7.000 orang.Menurut Helvy,dalam jangka panjang kegairahan menulis tersebut bisa meningkatkan kualitas baca tulis masyarakat.Jika kita percaya tulisan sebagai ekspresi seni dan intelektualitas,bisa turut menghaluskan akalbudi, gairah ini bisa menjelma menjadi gerakan budaya yang bakal meningkatkan kualitas kemanusiaan dan peradaban. Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Horison, Jamal D.Rahman menyikapi fenomena ini mengatakan bahwa pendidikan mendorong tumbuhnya kelas menengah terpelajar kota. Pada saat media cetak,internet dan toko buku memberi ruang bagi pengembangan dunia kepenulisan, sastra tumbuh menjadi gaya hidup masyarakat urban.sastra mengalami perluasan pembaca pan penulis sejak tahun 2000-an. Ini fenomena luar biasa ditengah banyak sisi yang menyedihkan dinegeri ini
Nah, di Tegal fenomena booming sastra disambut dengan lahirnya Gerakan Budaya yang kemudian diklaim menjadi lahirnya Sastra Tegalan. Selama kl.15 tahun Geliat dan Gairah Sastra Tegalan juga ber-diaspora. Seperti halnya diaspora sastra Indonesia yang dilakukan oleh pelbagai kalangan,latar belakang dan profesi (ibu rumah tangga,santri pondok,TKW,buruh pabrik dsb) ,maka Sastra Tegal juga diramaikan oleh pelbagai lintas kalangan. Bupati,Wakil Bupati,Walikota,Wakil Walikota,anggauta DPR,dosen,aktifis,LSM, pengamen,wartawan,penyiar radio,paranormal dan penyembuh alternatif,penganggur dsb. Mereka tidak saja tampil dipentas2 yang sigelar secara sporadis dan menulis di koran, tapi juga nongol di dunia maya. Klik saja di Google : “sastra Tegalan” , anda akan menemukan banyak website yang mengusung Sastra Tegalan. (Bahan dari : KOMPAS edisi Minggu 11/1/2009).