Jejak Langkah (sebuah catatan kilas balik)

Kembalikan Martabat Bahasa Tegal

Seringnya penggunaan bahasa Tegal sebagai alat melawak, membuat banyak orang mencitrakan Tegal sebagai bahasa yang lucu. Padahal, sebagaimana bahasa daerah yang lain, bahasa Tegal, atau sejumlah orang menyebutkan sebagai bahasa Jawa dialek Tegal, juga merupakan bahasa yang “serius”. Ia merupakan pencerminan karakter orang Tegal dan sekitarnya yang juga berkecenderungan serius. “Orang selama ini kurang proporsional dalam menempatkan bahasa Tegal. Mereka memandang bahasa ini hanya untuk lawakan. Padahal, bahasa Tegal juga merupakan sarana komunikasi sosial yang serius bagi masyarakat Tegal dan sekitarnya,” papar ahli bahasa Tegalan, Mochamad Hadi Utomo, pekan lalu di Tegal.

Dalam tipologi masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah, bahasa Tegal hanya dianggap sebagai subkultur dari bahasa Jawa. Pandangan itu sudah bertahan ratusan tahun. Bahasa Tegal ditempatkan sebagai bahasa kelas dua dibanding bahasa Jawa yang berkiblat kepada budaya Surakarta dan Yogyakarta.

Pandangan itu muncul karena proses sejarah sosial dan politik di Jawa yang cenderung didominasi wong wetanan atau orang timur yang berasal dari wilayah Mataraman. Sejak zaman Mataram Islam, hampir semua pemimpin atau penguasa di wilayah Tegal berasal dari priayi wetanan atau kaum bangsawan dari Timur, terutama dari Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut Hadi Utomo, priayi wetanan itu cenderung membawa budaya dan dialek kejawaannya dalam berkomunikasi kepada masyarakat dan birokrasinya. Ini membuat secara politik posisi bahasa dan dialek Jawa di wilayah Tegal dan sekitarnya lebih elite dan dianggap lebih luhur dibandingkan dengan dialek Tegal. Birokrat dan punggawa kadipaten ikut-ikutan memakai dialek Jawa.

“Bahasa Tegal pun hanya dikenal untuk masyarakat kelas bawah. Akibatnya, orang Tegal mau berbicara dengan bahasa Tegal cenderung rendah diri, terutama jika sudah ke luar daerah,” paparnya. Mulai zaman kerajaan Mataram, penjajahan Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru, kata Hadi, kepala daerah di wilayah Tegal dan sekitarnya selalu berasal dari priayi wetanan

 

(Dikutip dari Kompas,20/09/2006)

 

Kongres Bahasa Tegal I

Perlu Dibuatkan Produk Hukum

Kongres yang diketuai seniman Yono Daryono pada akhirnya menghasilkan empat poin rekomendasi. Pertama, Pemkat/Pemkab yang mengayomi masyarakat berbahasa ibu Tegal wajib mencanangkan landasan kebijakan dan program-program yang konkret untuk pemuliaan bahasa daerah itu.

Selain itu, kebijakan dan program konkret pemuliaan bahasa Tegal yang dimaksud hendaknya diorientasikan pada lima hal. Pertama, pembudayaan dan pemberdayaan bahasa Tegal sebagai penguat identitas dan kebanggaan masyarakat. Kedua, pemfungsiannya sebagai sarana ekspresi kebudayaan.

Ketiga, pembudayaan bahasa Tegal melalui strategi kurikuler dengan cara mendudukkannya sebagai mata pelajaran di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Keempat, pembentukan lembaga yang secara berkelanjutan menunaikan fungsi-fungsi sosialisasi, kajian, dan pengembangan bahasa Tegal. Kelima, pemberian aspirasi dan penghargaan kepada anggota masyarakat yang menunjukkan karya berprestasi dan berdedikasi dalam memuliakan bahasa Tegal.

Secara khusus, kongres juga merekomendasikan empat hal. Pertama, perlu adanya produk hukum -dalam hal ini perda- yang menetapkan kebijakan Pemkot Tegal tentang bahasa atau dialek Tegal. Kedua, perlu dibentuk Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Bahasa Tegal yang meliputi upaya pembinaan dan pengembangan dialek yang mendesak.

Upaya yang mendesak tersebut, antara lain perumusan baku atau standar dialek Tegal, pengadaan bahan ajar, dan pengadaan kamus bahasa Tegal. Selain itu, upaya lainnya, pengangkatan guru Bahasa Jawa serta pengadaan diklat, workshop, bimbingan teknis (bintek), dan semiloka tentang pengajaran dialek Tegal.

(Dikutip dari SM 5/4/2006)

 

 

Bahasa Tegal dan Tradisi Tulis

Oleh Suriali Andi Kustomo

 

TIGA belas tahun yang lalu, saya memberi kata pengantar buku Roa, sebuah buku karya sastra terjemahan. Namun bukan buku terjemahan sastra asing ke bahasa Indonesia atau sebaliknya – dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, Perancis, Jepang, atau bahasa lain sebagaimana karya Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Mochtar Lubis, Goenawan Mohamad, dan sastrawan Indonesia lainnya.

Buku itu tidak lain adalah kumpulan puisi terjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Tegal alias Tegalan! Lanang Setiawan yang menjadi penerjemah merangkap editor berhasil merayu sejumlah kawan: Yono Daryono, Nurhidayat (Poso), Nurngudiono, Roffie Dimyati, Hartono Ch. Surya, dan saya sendiri, bergabung di gerbong penerjemahan fenomenal itu.

Tidak tanggung-tanggung yang diterjemahkan puisinya adalah karya penyair besar Indonesia seperti Chairil Anwar, Rendra, Taufik Ismail, Hartono Andangdjaja, Yudistira ANM Massardi, F. Rahardi, dan penyair lainnya.

Seperti sudah dapat diduga, penerjemahan itu pun tanpa kulonuwun kepada para penyair atau ahli warisnya. Pokoknya, diterjemahkan. Dalam pengantar Roa (Mimbar Pengajian Seni dan Budaya, Tegal, 1994), saya mengingatkan bahwa puisi terjemahan tersebut bisa jadi sampah belaka jika upaya itu sekadar mencari efek komedikal dari bahasa Tegalan. Terlebih bila penerjemahan tersebut dilakukan tanpa memperhitungkan nuansa dan makna puisinya.

Efek penerjemahan tersebut memang di luar dugaan. Orang terutama sejumlah sastrawan, ramai membicarakan gaya nylenehdari Tegal itu. Sejarah kemudian mencatat, bahasa (sastra) Tegal mulai banyak diperbincangkan media.

Terlebih meskipun dari sekian puisi hanya puisi Rendra yang “meledak” tetapi sempat bikin geleng-geleng kepala dan ketawa orang yang mendekarnya. Puisi Rendra — “Nyanyian Angsa,” di-traslate Lanang Setiawan menjadi “Tembangan Banyak.”Dari kalangan seniman Tegal sendiri sebenarnya ada beberapa orang yang mempertanyakan kualitas sekaligus motivasi penerjemahan tersebut. Lutfi AN misalnya, bahkan sempat menyayangkan saya karena memberi kata pengantar buku tersebut

Strategi ini cukup realistis mengingat tradisi menulis dengan bahasa Tegal belum begitu tumbuh. Untuk mendorongnya butuh pengungkit melalui bahasa Indonesia. Transformasi ini diharapkan berjalan lebih mudah hingga menyemai minat orang Tegal menulis dengan bahasa Tegal.

 

(Dikutip dari SM 14/4/2007)

 

 

Sebuah Catatan Kongres Bahasa Tegal

Oleh Teguh Supriyanto

Munculnya prakarsa kongres menandakan gairah kedaerahan menyambut baik kebijakan pemerintah. Namun, dapat juga dibaca sebagai perlawanan dari bahasa dan sastra Jawa di bekas daerah mancanagari dan pesisir. Bagi bekas nagari gung (baca: Solo dan Yogyakarta) bahasa Jawa di daerah Banyumas, Tegal, dan pesisir timur adalah bahasa yang jelek, tidak baku, dan rendah. Semangat kedaerahan yang menggebu itu tiba-tiba menyadarkan ada persoalan besar ketika sampai pada persoalan bahasa Jawa dialek Tegal yang seperti apa yang akan diajarkan kepada siswa. Apakah bahasa Tegal gaya sumpah serapah sebagaimana Ki Entus Susmono dan penyair Eko Tunas?

Namun, tidaklah bijak jika bahasa Banyumasan atau Tegalan ragam sumpah serapah diajarkan kepada siswa di sekolah. Karena, setiap bahasa memiliki ragam sumpah serapah, tidak terkecuali Solo dan Yogyakarta. Pilihan materi ajar semestinya diarahkan pada ragam bahasa yang “tertata”. Materi ajar

Ketika kongres di Banyumas dan Tegal sampai pada pertanyaan materi ajar yang mana, yang akan diajarkan kepada siswa, menjadi buntu. Mereka cenderung mengarah kepada pilihan bahasa Jawa gaya Solo dan Yogyakarta yang selama ini diajarkan.

 

(Dikutip dari Kompas 17/4/2006)

 

 

Egaliter

(Sambutan Eko Tunas dalam Kongres bahasa Jawa 2006)

Sementara itu, Eko Tunas mengungkapkan perihal kekuatan bahasa Tegal sebagai alat ekspresi. Kekayaan bahasa dari ranah pesisiran itu, kata dia, memungkinkan wong Tegal menggunakan untuk menyampaikan gagasan, termasuk dalam soal sastra. Bahasa Tegal juga berpengaruh besar terhadap mentalitas sang penutur, membuat mereka terdidik untuk jujur, egaliter, dan terbuka.

Basa Tegal kuwi laka aling-aling, laka unggah-ungguh. Dhes,” ujarnya dalam bahasa Tegal yang kental.

Sebelum tampil sebagai pembicara, Eko Tunas yang dikenal sebagai sastrawan dan aktor teater itu menghadiahkan geguritan khas tegalan.

Dia membacakan puisi yang mengungkap tentang keserakahan manusia pada era sekarang yang lebih mengedepankan otak ketimbang hati itu. “Padahal, sepandai-pandai orang yang berpikir dengan otak akan mencipta bom. Sebaliknya, orang yang berpikir dengan hati atau rasa, akan selalau melandasi setiap tindakannya dengan kasih sayang.” (Achiar M Permana-53)

(Sumber: Suara Merdeka, 19 April 2006)

 

Petualangan Seorang Topeng

Monolog Prancis dan Jawa berserobok. Dan bersaing.

Catherine Germain, anggota grup teater Compagnie la’Enterprise, Mersaille, Prancis, sedang memerankan tokoh Penasar dalam drama beraktor tunggal Petualangan Penasar (La Voyage de Penazar). Francois Cervantes, sang sutradara dan penulis naskah, telah 150 kali mementaskannya di Prancis dalam tiga tahun terakhir dan sukses. Tapi, inilah pertama kali mereka naik panggung di negeri tempat asal Penasar—di Surakarta dan Yogyakarta—pekan lalu. Petualangan Penasar diangkat dari kisah Indonesia klasik tentang seorang bernama Penasar Cenikan, atau yang dikenal pula sebagai Kartala. Dalam sendratari Bali, Kartala dikenal sebagai abdi seorang raja setempat. Namun, dalam naskah Cervantes, ia ditempatkan sebagai abdi seorang Raja Jenggala, kerajaan Hindu di Jawa pada abad ke-15. Cervantes, kini berusia 43 tahun, tertarik menulis naskah itu setelah menemukan topeng Bali pada sebuah toko barang antik Kota Paris, “Le Singe Blanc”. Naskahnya dalam bentuk monolog diselesaikan pada 1998. Dalam pentas di Solo pekan lalu, Cervantes harus membuat adaptasi. Ia menghadirkan Slamet Gundono, dalang setempat, sebagai narator. Slamet dikenal mahir memainkan wayang suket, pertunjukan mirip wayang kulit tapi tokoh-tokohnya dibuat dari rumput. Dia mengantarkan kisah Penasar ketika masih menjadi “abdi dalem” kerajaan. Bukan dalam bahasa Prancis, melainkan lewat bahasa Jawa dialek Tegal yang mengundang tawa. Pengabdian Penasar terputus kala sang majikan tewas dalam sebuah pemberontakan. Ketika mengisahkan episode ini, Slamet menyelipkan tembang yang diiringi kendang, gamelan, dan rebab. . Germain berceloteh dalam bahasa Prancis, Slamet menerjemahkannya dalam bahasa Tegal. Terbiasa dengan tradisi bercerita seorang dalang, sulit mengharapkan Slamet setia pada naskah. Tapi justru di situlah daya tariknya. Dengan kelenturannya, celotehan Slamet membuat cerita lebih hidup. Slamet juga memberi konteks lokal dalam kisah Penasar. Bahkan kesenjangan dua bahasa bisa dijadikannya bahan lelucon. Umumnya, Slamet menerjemahkan setelah Germain selesai bicara. Tapi ada kalanya keduanya bicara serentak, berkejar-kejaran dalam intensitas tinggi. Penonton yang menguasai sekaligus dua bahasa itu akan repot karena terbelah konsentrasinya. Dalam pementasan di Lembaga Indonesia-Prancis Yogyakarta, misalnya, banyak penonton yang umumnya paham bahasa Jawa dan Prancis tampak ngos-ngosan berusaha menyimak dua aktor itu. Sebaliknya, ini lebih mudah bagi penonton yang tidak paham bahasa Prancis sama sekali. Di Taman Budaya Surakarta, perhatian penonton lebih terpusat pada polah Slamet, yang tubuh tambunnya sendiri sudah mengundang tawa. Mereka cenderung mengabaikan Germain karena hambatan bahasa. Pementasan monolog dalam dua bahasa ini sebenarnya sebuah eksperimen seni pertunjukan yang menarik. Cervantes sebagai sutradara berusaha menyampaikan kisah kepada dua audiens sekaligus tanpa terlalu banyak mengganggu alur pertunjukan. Germain tampak cukup serasi ketika mengisi gerak saat Slamet berkisah dalam bahasa Jawa.

 

(Dikutip dari TEMPO 2/9/2002)

 

Monolog Eko Tunas: Mencari Kutu Peradaban

Jakarta, KCM

Perempuan dengan rambut panjang tergerai itu bernama Turah. Tak seperti kebanyakan pencitraan perihal perempuan berambut panjang yang biasanya direpresentasikan sebagai perempuan elok, maka Turah justru paradoks dari gambaran tersebut.

Soalnya, pada rambut Turah yang panjang itu, dipenuhi oleh tuma! Ya, tuma (kutu)! Celakanya, cuma Turah seorang di zaman kini yang memiliki tuma. Maklumlah, peradaban modern dengan segala aksesoris hidup, tak lagi memberi ruang buat tuma hidup.

Cerita tuma tersebut, kata Eko seusai pentas, sebetulnya dia ambil dari filosofi masyarakat Jawa.

Untuk menengarai betapa istimewanya filosofi tuma tersebut, tak heran jika cuma binatang tuma saja yang memiliki penamaan berbeda-beda dalam siklus metamorfosanya.

Telur tuma, orang Jawa menyebutnya lingsa yang diterjemahkan sebagai eling (ingat) asal muasal kejadian manusia. Anak tuma disebut sebagi kor, yang berarti kita harus rela berkorban. Dan,..tuma, berarti tumanja…, bahwa hidup mesti berarti buat sesama. Adapun rambut, tempat bagi para tuma berlindung diterjemahkan sebagai rambataning urip (jalan hidup), serta sirah (kepala) sebagai sumber kehidupan tuma diterjemahkan sebagai isining wewarah (berisi pengetahuan).

Monolog berjudul Tuma yang dibawakan Eko Tunas dalam bahasa Tegal di Warung Apresiasi (Wapress), Bulungan, Jakarta Selatan pada Senin (30/8), merupakan rangkaian dari road show aktor kelahiran Tegal yang kini mukim di Semarang tersebut.

Jakarta, kata Eko adalah kota ketiga belas yang disambanginya. Pertunjukan monolog berdurasi satu jam itu menurut Eko, dibuat tanpa naskah. “Saya hanya improvisasi di atas panggung. Itulah sebabnya, satu pertunjukan dengan pertunjukan lainnya pasti berbeda,” kata Eko Tunas.

Meski menggunakan bahasa Tegal dalam monolognya, toh penonton tampaknya mengerti dengan pesan yang ingin disampaikan Eko. Maklumlah, sebagai aktor Eko telah menunjukkan kematangannya.

 

Iklan

About ccvcku

Hadi Utomo,Lahir di Kecamatan Subah ( Kabupaten Batang - Pekalongan) 26 Januari 1939. Sekolah Rakyat dibeberapa tempat,kemudian tamat SMP Negeri Brebes th.1954 dan SMA Bag.B/Negeri di Pekalongan yh.1958. Sempat kuliah di PTP (Perguruan Tinggi Publisistik) di Jakarta th.1960 selama beberapa tahun namun tidak tamat. Bekerja di pelbagai perusahan di Jakarta sampai tahun 1970.Kemudian pindah ke Palimanan (Kab.Cirebon) sebagai petani sampai tahun 1980. Tahun 1980 berpindah ke Tegal berganti profesi dibidang radio siaran swasta sampai sekarang. Sejak di SMA gemar menulis cerpen,puisi dan artikel.Tulisan-tulisannya banyak dimuat dimajalah dan surat kabar a.l.Kisah,Sastra,Horison,Merdeka,Abadi,Berita Minggu,Duta Masyarakat dll). Salah satu cerpennya dimuat di Kumpulan Cerpen Indonesia III (Gramedia ed.Setyagraha Hoerip,1986.Sampai sekarang masih giat menulis dibeberapa media lokal dan mengelola program radio sambil sesekali membuat jingle iklan dan lagu-lagu daerah Tegal. Motto Hidup : Berguna Sampai Tua

Posted on November 23, 2008, in Artikel and tagged . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. apik. mugane wong-wong tegal kudu pada sadar. bahwa bahasa tegalan itu sudah saate meroket. aku setuju kalau bahasa tegal mendatang tidak hanya berkutat di wilayah tegal, tapi menjadi bagian dari bahasa indonesia. Yaheeeerrrrrr….selamat Hari Sastra Tegalan pada 26 Nopember.

  2. Hebat pak Hadi..Seperti sinyalemen anda tadinya sebelum membaca situs ini saya pikir bahasa Tegal dipakai sebagai lawakan Belaka. Saya juga kurang sreg mengapa kalau orang melakukan komedi termasuk orang bego harus pakai bahasa Indonesia yang di kentalkan Jawanya.
    Salam kenal

    • Trimakasih Mas Mimbar….Anda mau membaca blog Sastra Tegalan. Bahasa Tegal adalah satu dari bahasa lokal yang digunakan oleh kl.3 juta komunitas di wilayah Kota Tegal,Kab.Tegal dan Kab.Brebes.Sudah pernah makan di Warteg ? Di Jakarta ada ribuan warteg (warung Tegal). Asal tahu saja slogan Kota Tegal : “Tegal Keminclong Moncer Kotane” dan slogan Kab.Tegal : “Kabupaten Tegal Ngangeni Lan Mbetahi” Unik ya..? Salam.

  3. inyonge melu bae lah……inyong udu wong tegal seh..tp wong kebumen,,,,,,,,ora beda adoh mbok karo bahasa tegal.

    hidup tegal!!!

    • Matur nuwun Mas Manto. Tegal,Brebes,Slawi,Banyumas,Kebumen…manjinge bahasa Jawa bagian kulon. Jelase adoh saka kraton (Solo/Jogya) sing dadi pusate budaya Jawa.Dadi bahasane ya mirip2. Panjenengan esih brayah karo Arswendo Atmowiloto mbok ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: