Monthly Archives: November 2008

Serba Serbi Bahasa Tegal

Bahasa Tegal Tidak Kasar

Sekali lagi ada penegasan umum  bahwa Bahasa Tegal itu tidak kasar. Dalam karya tulis KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) SMA Negeri I Tegal yang menjuarai lomba karya tulis dalam rangkaian acaera Gebyar Budaya Hima Bahasa dan sastra Indonesia UNES Semarang (Minggu 16/11). Karya tulis mereka brejudul “Globalisasi Bahasa Tegal : Sebuah Kajian Sosiolinguistik Terhadap Bahasa Tegal”.

Menurut teori linguistik sinkronis atau deskriptif oleh BW Aginsky dalam artikel The Importance of Languange Universals di majalah Word, tidak ada bahasa yang primitif,kasar,atau rusak.Setiap bahasa memiliki derajat kerumitan dan keunikan masing2 (Kompas,25/11/2008)

Halus dan kasar sebuah bahasa tergantung : a.siapa penuturnya.Latar belakang  penutur akan berpengaruh terhadap frasa dan pilihan kata.Seorang buruh kasar yang tidak berpendidikan tentu berbeda cara bertuturnya  dengan seorang ulama atau pejabat misalnya. b. konteks dan suasana penuturan.Dalam kontek dakwah,perbincangan resmi,ramaha tamah acara keluarga, tentu berbeda dengan suasana kemarahan yang harus mengeluarkan caci-maki dan kata- kasar (raimu,asu,dobol,bangsèt,mérad,mbadhog dsb)

Barangkali ke”kasar”an bahasa Tegal lebih karena banyaknya kosakata yang menggunakan huruf mati j,g ,dh dan  b.sehingga ketika diucapkan terdengar lebih medhok dan tebal:

gejug,mbonjrot,anjog,jog,rungseb,nglegleg,mlègok,anyeb,mbajor,ngosog,ngoncog, badheg,kejedhag,semineb dsb.***

 

Iklan

Jejak Langkah (sebuah catatan kilas balik)

Kembalikan Martabat Bahasa Tegal

Seringnya penggunaan bahasa Tegal sebagai alat melawak, membuat banyak orang mencitrakan Tegal sebagai bahasa yang lucu. Padahal, sebagaimana bahasa daerah yang lain, bahasa Tegal, atau sejumlah orang menyebutkan sebagai bahasa Jawa dialek Tegal, juga merupakan bahasa yang “serius”. Ia merupakan pencerminan karakter orang Tegal dan sekitarnya yang juga berkecenderungan serius. “Orang selama ini kurang proporsional dalam menempatkan bahasa Tegal. Mereka memandang bahasa ini hanya untuk lawakan. Padahal, bahasa Tegal juga merupakan sarana komunikasi sosial yang serius bagi masyarakat Tegal dan sekitarnya,” papar ahli bahasa Tegalan, Mochamad Hadi Utomo, pekan lalu di Tegal.

Dalam tipologi masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah, bahasa Tegal hanya dianggap sebagai subkultur dari bahasa Jawa. Pandangan itu sudah bertahan ratusan tahun. Bahasa Tegal ditempatkan sebagai bahasa kelas dua dibanding bahasa Jawa yang berkiblat kepada budaya Surakarta dan Yogyakarta.

Pandangan itu muncul karena proses sejarah sosial dan politik di Jawa yang cenderung didominasi wong wetanan atau orang timur yang berasal dari wilayah Mataraman. Sejak zaman Mataram Islam, hampir semua pemimpin atau penguasa di wilayah Tegal berasal dari priayi wetanan atau kaum bangsawan dari Timur, terutama dari Surakarta dan Yogyakarta.

Menurut Hadi Utomo, priayi wetanan itu cenderung membawa budaya dan dialek kejawaannya dalam berkomunikasi kepada masyarakat dan birokrasinya. Ini membuat secara politik posisi bahasa dan dialek Jawa di wilayah Tegal dan sekitarnya lebih elite dan dianggap lebih luhur dibandingkan dengan dialek Tegal. Birokrat dan punggawa kadipaten ikut-ikutan memakai dialek Jawa.

“Bahasa Tegal pun hanya dikenal untuk masyarakat kelas bawah. Akibatnya, orang Tegal mau berbicara dengan bahasa Tegal cenderung rendah diri, terutama jika sudah ke luar daerah,” paparnya. Mulai zaman kerajaan Mataram, penjajahan Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru, kata Hadi, kepala daerah di wilayah Tegal dan sekitarnya selalu berasal dari priayi wetanan

 

(Dikutip dari Kompas,20/09/2006)

 

Kongres Bahasa Tegal I

Perlu Dibuatkan Produk Hukum

Kongres yang diketuai seniman Yono Daryono pada akhirnya menghasilkan empat poin rekomendasi. Pertama, Pemkat/Pemkab yang mengayomi masyarakat berbahasa ibu Tegal wajib mencanangkan landasan kebijakan dan program-program yang konkret untuk pemuliaan bahasa daerah itu.

Selain itu, kebijakan dan program konkret pemuliaan bahasa Tegal yang dimaksud hendaknya diorientasikan pada lima hal. Pertama, pembudayaan dan pemberdayaan bahasa Tegal sebagai penguat identitas dan kebanggaan masyarakat. Kedua, pemfungsiannya sebagai sarana ekspresi kebudayaan.

Ketiga, pembudayaan bahasa Tegal melalui strategi kurikuler dengan cara mendudukkannya sebagai mata pelajaran di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Keempat, pembentukan lembaga yang secara berkelanjutan menunaikan fungsi-fungsi sosialisasi, kajian, dan pengembangan bahasa Tegal. Kelima, pemberian aspirasi dan penghargaan kepada anggota masyarakat yang menunjukkan karya berprestasi dan berdedikasi dalam memuliakan bahasa Tegal.

Secara khusus, kongres juga merekomendasikan empat hal. Pertama, perlu adanya produk hukum -dalam hal ini perda- yang menetapkan kebijakan Pemkot Tegal tentang bahasa atau dialek Tegal. Kedua, perlu dibentuk Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Bahasa Tegal yang meliputi upaya pembinaan dan pengembangan dialek yang mendesak.

Upaya yang mendesak tersebut, antara lain perumusan baku atau standar dialek Tegal, pengadaan bahan ajar, dan pengadaan kamus bahasa Tegal. Selain itu, upaya lainnya, pengangkatan guru Bahasa Jawa serta pengadaan diklat, workshop, bimbingan teknis (bintek), dan semiloka tentang pengajaran dialek Tegal.

(Dikutip dari SM 5/4/2006)

 

 

Bahasa Tegal dan Tradisi Tulis

Oleh Suriali Andi Kustomo

 

TIGA belas tahun yang lalu, saya memberi kata pengantar buku Roa, sebuah buku karya sastra terjemahan. Namun bukan buku terjemahan sastra asing ke bahasa Indonesia atau sebaliknya – dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, Perancis, Jepang, atau bahasa lain sebagaimana karya Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Mochtar Lubis, Goenawan Mohamad, dan sastrawan Indonesia lainnya.

Buku itu tidak lain adalah kumpulan puisi terjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Tegal alias Tegalan! Lanang Setiawan yang menjadi penerjemah merangkap editor berhasil merayu sejumlah kawan: Yono Daryono, Nurhidayat (Poso), Nurngudiono, Roffie Dimyati, Hartono Ch. Surya, dan saya sendiri, bergabung di gerbong penerjemahan fenomenal itu.

Tidak tanggung-tanggung yang diterjemahkan puisinya adalah karya penyair besar Indonesia seperti Chairil Anwar, Rendra, Taufik Ismail, Hartono Andangdjaja, Yudistira ANM Massardi, F. Rahardi, dan penyair lainnya.

Seperti sudah dapat diduga, penerjemahan itu pun tanpa kulonuwun kepada para penyair atau ahli warisnya. Pokoknya, diterjemahkan. Dalam pengantar Roa (Mimbar Pengajian Seni dan Budaya, Tegal, 1994), saya mengingatkan bahwa puisi terjemahan tersebut bisa jadi sampah belaka jika upaya itu sekadar mencari efek komedikal dari bahasa Tegalan. Terlebih bila penerjemahan tersebut dilakukan tanpa memperhitungkan nuansa dan makna puisinya.

Efek penerjemahan tersebut memang di luar dugaan. Orang terutama sejumlah sastrawan, ramai membicarakan gaya nylenehdari Tegal itu. Sejarah kemudian mencatat, bahasa (sastra) Tegal mulai banyak diperbincangkan media.

Terlebih meskipun dari sekian puisi hanya puisi Rendra yang “meledak” tetapi sempat bikin geleng-geleng kepala dan ketawa orang yang mendekarnya. Puisi Rendra — “Nyanyian Angsa,” di-traslate Lanang Setiawan menjadi “Tembangan Banyak.”Dari kalangan seniman Tegal sendiri sebenarnya ada beberapa orang yang mempertanyakan kualitas sekaligus motivasi penerjemahan tersebut. Lutfi AN misalnya, bahkan sempat menyayangkan saya karena memberi kata pengantar buku tersebut

Strategi ini cukup realistis mengingat tradisi menulis dengan bahasa Tegal belum begitu tumbuh. Untuk mendorongnya butuh pengungkit melalui bahasa Indonesia. Transformasi ini diharapkan berjalan lebih mudah hingga menyemai minat orang Tegal menulis dengan bahasa Tegal.

 

(Dikutip dari SM 14/4/2007)

 

 

Sebuah Catatan Kongres Bahasa Tegal

Oleh Teguh Supriyanto

Munculnya prakarsa kongres menandakan gairah kedaerahan menyambut baik kebijakan pemerintah. Namun, dapat juga dibaca sebagai perlawanan dari bahasa dan sastra Jawa di bekas daerah mancanagari dan pesisir. Bagi bekas nagari gung (baca: Solo dan Yogyakarta) bahasa Jawa di daerah Banyumas, Tegal, dan pesisir timur adalah bahasa yang jelek, tidak baku, dan rendah. Semangat kedaerahan yang menggebu itu tiba-tiba menyadarkan ada persoalan besar ketika sampai pada persoalan bahasa Jawa dialek Tegal yang seperti apa yang akan diajarkan kepada siswa. Apakah bahasa Tegal gaya sumpah serapah sebagaimana Ki Entus Susmono dan penyair Eko Tunas?

Namun, tidaklah bijak jika bahasa Banyumasan atau Tegalan ragam sumpah serapah diajarkan kepada siswa di sekolah. Karena, setiap bahasa memiliki ragam sumpah serapah, tidak terkecuali Solo dan Yogyakarta. Pilihan materi ajar semestinya diarahkan pada ragam bahasa yang “tertata”. Materi ajar

Ketika kongres di Banyumas dan Tegal sampai pada pertanyaan materi ajar yang mana, yang akan diajarkan kepada siswa, menjadi buntu. Mereka cenderung mengarah kepada pilihan bahasa Jawa gaya Solo dan Yogyakarta yang selama ini diajarkan.

 

(Dikutip dari Kompas 17/4/2006)

 

 

Egaliter

(Sambutan Eko Tunas dalam Kongres bahasa Jawa 2006)

Sementara itu, Eko Tunas mengungkapkan perihal kekuatan bahasa Tegal sebagai alat ekspresi. Kekayaan bahasa dari ranah pesisiran itu, kata dia, memungkinkan wong Tegal menggunakan untuk menyampaikan gagasan, termasuk dalam soal sastra. Bahasa Tegal juga berpengaruh besar terhadap mentalitas sang penutur, membuat mereka terdidik untuk jujur, egaliter, dan terbuka.

Basa Tegal kuwi laka aling-aling, laka unggah-ungguh. Dhes,” ujarnya dalam bahasa Tegal yang kental.

Sebelum tampil sebagai pembicara, Eko Tunas yang dikenal sebagai sastrawan dan aktor teater itu menghadiahkan geguritan khas tegalan.

Dia membacakan puisi yang mengungkap tentang keserakahan manusia pada era sekarang yang lebih mengedepankan otak ketimbang hati itu. “Padahal, sepandai-pandai orang yang berpikir dengan otak akan mencipta bom. Sebaliknya, orang yang berpikir dengan hati atau rasa, akan selalau melandasi setiap tindakannya dengan kasih sayang.” (Achiar M Permana-53)

(Sumber: Suara Merdeka, 19 April 2006)

 

Petualangan Seorang Topeng

Monolog Prancis dan Jawa berserobok. Dan bersaing.

Catherine Germain, anggota grup teater Compagnie la’Enterprise, Mersaille, Prancis, sedang memerankan tokoh Penasar dalam drama beraktor tunggal Petualangan Penasar (La Voyage de Penazar). Francois Cervantes, sang sutradara dan penulis naskah, telah 150 kali mementaskannya di Prancis dalam tiga tahun terakhir dan sukses. Tapi, inilah pertama kali mereka naik panggung di negeri tempat asal Penasar—di Surakarta dan Yogyakarta—pekan lalu. Petualangan Penasar diangkat dari kisah Indonesia klasik tentang seorang bernama Penasar Cenikan, atau yang dikenal pula sebagai Kartala. Dalam sendratari Bali, Kartala dikenal sebagai abdi seorang raja setempat. Namun, dalam naskah Cervantes, ia ditempatkan sebagai abdi seorang Raja Jenggala, kerajaan Hindu di Jawa pada abad ke-15. Cervantes, kini berusia 43 tahun, tertarik menulis naskah itu setelah menemukan topeng Bali pada sebuah toko barang antik Kota Paris, “Le Singe Blanc”. Naskahnya dalam bentuk monolog diselesaikan pada 1998. Dalam pentas di Solo pekan lalu, Cervantes harus membuat adaptasi. Ia menghadirkan Slamet Gundono, dalang setempat, sebagai narator. Slamet dikenal mahir memainkan wayang suket, pertunjukan mirip wayang kulit tapi tokoh-tokohnya dibuat dari rumput. Dia mengantarkan kisah Penasar ketika masih menjadi “abdi dalem” kerajaan. Bukan dalam bahasa Prancis, melainkan lewat bahasa Jawa dialek Tegal yang mengundang tawa. Pengabdian Penasar terputus kala sang majikan tewas dalam sebuah pemberontakan. Ketika mengisahkan episode ini, Slamet menyelipkan tembang yang diiringi kendang, gamelan, dan rebab. . Germain berceloteh dalam bahasa Prancis, Slamet menerjemahkannya dalam bahasa Tegal. Terbiasa dengan tradisi bercerita seorang dalang, sulit mengharapkan Slamet setia pada naskah. Tapi justru di situlah daya tariknya. Dengan kelenturannya, celotehan Slamet membuat cerita lebih hidup. Slamet juga memberi konteks lokal dalam kisah Penasar. Bahkan kesenjangan dua bahasa bisa dijadikannya bahan lelucon. Umumnya, Slamet menerjemahkan setelah Germain selesai bicara. Tapi ada kalanya keduanya bicara serentak, berkejar-kejaran dalam intensitas tinggi. Penonton yang menguasai sekaligus dua bahasa itu akan repot karena terbelah konsentrasinya. Dalam pementasan di Lembaga Indonesia-Prancis Yogyakarta, misalnya, banyak penonton yang umumnya paham bahasa Jawa dan Prancis tampak ngos-ngosan berusaha menyimak dua aktor itu. Sebaliknya, ini lebih mudah bagi penonton yang tidak paham bahasa Prancis sama sekali. Di Taman Budaya Surakarta, perhatian penonton lebih terpusat pada polah Slamet, yang tubuh tambunnya sendiri sudah mengundang tawa. Mereka cenderung mengabaikan Germain karena hambatan bahasa. Pementasan monolog dalam dua bahasa ini sebenarnya sebuah eksperimen seni pertunjukan yang menarik. Cervantes sebagai sutradara berusaha menyampaikan kisah kepada dua audiens sekaligus tanpa terlalu banyak mengganggu alur pertunjukan. Germain tampak cukup serasi ketika mengisi gerak saat Slamet berkisah dalam bahasa Jawa.

 

(Dikutip dari TEMPO 2/9/2002)

 

Monolog Eko Tunas: Mencari Kutu Peradaban

Jakarta, KCM

Perempuan dengan rambut panjang tergerai itu bernama Turah. Tak seperti kebanyakan pencitraan perihal perempuan berambut panjang yang biasanya direpresentasikan sebagai perempuan elok, maka Turah justru paradoks dari gambaran tersebut.

Soalnya, pada rambut Turah yang panjang itu, dipenuhi oleh tuma! Ya, tuma (kutu)! Celakanya, cuma Turah seorang di zaman kini yang memiliki tuma. Maklumlah, peradaban modern dengan segala aksesoris hidup, tak lagi memberi ruang buat tuma hidup.

Cerita tuma tersebut, kata Eko seusai pentas, sebetulnya dia ambil dari filosofi masyarakat Jawa.

Untuk menengarai betapa istimewanya filosofi tuma tersebut, tak heran jika cuma binatang tuma saja yang memiliki penamaan berbeda-beda dalam siklus metamorfosanya.

Telur tuma, orang Jawa menyebutnya lingsa yang diterjemahkan sebagai eling (ingat) asal muasal kejadian manusia. Anak tuma disebut sebagi kor, yang berarti kita harus rela berkorban. Dan,..tuma, berarti tumanja…, bahwa hidup mesti berarti buat sesama. Adapun rambut, tempat bagi para tuma berlindung diterjemahkan sebagai rambataning urip (jalan hidup), serta sirah (kepala) sebagai sumber kehidupan tuma diterjemahkan sebagai isining wewarah (berisi pengetahuan).

Monolog berjudul Tuma yang dibawakan Eko Tunas dalam bahasa Tegal di Warung Apresiasi (Wapress), Bulungan, Jakarta Selatan pada Senin (30/8), merupakan rangkaian dari road show aktor kelahiran Tegal yang kini mukim di Semarang tersebut.

Jakarta, kata Eko adalah kota ketiga belas yang disambanginya. Pertunjukan monolog berdurasi satu jam itu menurut Eko, dibuat tanpa naskah. “Saya hanya improvisasi di atas panggung. Itulah sebabnya, satu pertunjukan dengan pertunjukan lainnya pasti berbeda,” kata Eko Tunas.

Meski menggunakan bahasa Tegal dalam monolognya, toh penonton tampaknya mengerti dengan pesan yang ingin disampaikan Eko. Maklumlah, sebagai aktor Eko telah menunjukkan kematangannya.

 

Waslam

Daning : M.Hadi Utomo

 

        Wis seprapat jam luwih Waslam ana nang dhuwuré Tugu Monas.Waslam ngadeg persis nang puncité,nang geni murub  sing kuning emas.Awaké sing ora nganggo klambi katon ireng menges kesorot srengéngé jam sanga awan.Kringeté dlèwèran nang rai lan awaké sing gagah pethekel. Matané sing abang kaya saga, nyapu pemandangan kota Jakarta sing ana nang ngingsoré.Pemandangan sing ajib nemen.

Gedhong-gedhong sing dhuwur,menara lan kubahé Mesjid Istiqlal, menarané Gereja Theresia sing pirang-pirang pating crengingih,kabèh katon wèlan nemen.Kendaraan sing wira wiri pating sliwer katon cilik-cilik kaya cèbong.Menungsa sing padha mlaku nang Jalan Silang utawa sing lagi olah raga katon kaya semut rangrang.

        Waslam èsih ngadeg jejeg, tangan kiwané malangkerik,tangan tengené tudhang tudhing persis kaya bajag laut sing nang dhuwur prau. Nang antarané suwara èwuan kenalpot kendaraan sing mbudhegi kuping, Waslam gemboran karo gemuyu ngakak.

        “Hahahahaaaaa…..Hééééiii…Kiyèh aku sing arané Waslam !  Wasss…..lam ! Waslam bin Kasnan ! Yaaah, bapané nyong pancèn arané Man Kasnan. Man Kasnan sing wis mati lagi nyong umur telung taun. Adhiné nyong…wadon…arané Ta-ri-ni…Lagi bapané mati,Tarini tèsih bayi. Ngarti kowen ? Lhah manéné aku, arané Bi Niti, randha sepocong, asalé sing mbang kidulé Margasari. Héééééiiii….kiyèh aku…sing arané Waslam. Raimu padha krungu apa ora ?”  Suwarané Waslam seru nemen kaya kemlandhang. Nyebar maring endi-endi ora. Tapi terus klelep daning suwarané lalu lintas sing ruwed nemen. Suwara klakson mobil-mobil sing macet, suwara sempritané pulisi lalu lintas,awor dadi siji.Weruh akèh kendaraan sing macet nang Bunderan H.I. Waslam gemboran maning karo terus gemuyu ngakak daea nemen.

        “Hééé….! Supir-supir goblog ! Aja terus mengidul hoo. Wis weruh macet ya padha umpel-umpelan baé. Mlègok ngiwa, goblog ! Iyaa…manjing Imam Bonjol terus liwat Kuningan. Supir kunyuk !”. Tangané Waslam terus tudhang-tudhing kaya pulisi lalu lintas.Tapi kendaraan malah sangsaya macet.Supiré belèh urusan.Pancèn. Suwarané Waslam ora keprungu. Monia keprungu ya ora bakal dirèwès. Apa maning Waslam ngomongé nganggo basa Tegal medhok nemen. Rumangsa  suwarané ora dirèwès, Waslam misuh-misuh.Raimu ! Asu ! Bangsèt ! Tapi menungsa sing ana nang ngingsor tetep ora ngrèwès. Waslam nglinguk mendhuwur.Matané silo.Srengéngé sing sangsaya dhuwur mantulaken soroté sing jendela kaca  gedhong-gedhong bertingkat nang jalan Thamrin karo Merdeka Barat. Waslam mingser. Saiki ngadegé madhep ngalor.persis adhep-adhepan karo Istana Merdeka.Weruh CPM sing lagi jaga, Waslam ngawé-awé.

 “Héé , Mas,Pak ! Rika weruh nyong apa ora ?”  CPM sing lagi ngadeg jejeg malah ngangkat tangan tengené karo sikap hormat.Waslam uga mèlu sikap hormat,ndegèg karo tapak tangan tengené nang kuping. Jebulé Waslam salah tampa. CPM kuwé hormat maring tentara sing pangkaté kolonel nang jero jip tentara sing arep maring istana. Ngrasa dhèwèkè kecelik, Waslam malah gemuyu ngakak nganti kesenggruk watuk-watuk.Bar kuwé Waslam gemboran maning,embuh ngomongé apa,terus gemuyu maning,watuk maning,gemboran maning….

“Héééé…! Kiyèh..aku sing arané Waslam.Waslam sing wis limalas taun urip nang Jakarta.Aku sing wis dadi lemahé Jakarta. Dadi lumpuré Jakarta. Dadi runtahé Jakarta…Dadi tainé Jakarta…Ngarti, raimu….? Awit umur nem taun aku digawa manéné, manjing maring alas rungkut sing arané Ja-kar-ta…Aku karo adhi wadon sing aranéTarini dadi gèmbèl nang Senen. Umahé kardus karo plastik nang pinggir dampar sepur.Aku wareg mrangkang nang pojok-pojoké Jakarta.Wareg nginung banyu Ciliwung sing buthek lethek.Lagi cilik wareg ngemis nang  pasar Tanah Abang. Terus dadi tukang semir nang terminal Pulogadung. Bareng rada gedhé dadi tukang parkir,terus dadi kenek metro mini,terus munggah pangkat dadi tukang kadhèt nang bis kota. Dadi tukang todong nang jembatan penyebrangan ya wis tau.Pokoké nyong wis sering manjing metu tahanan.Mulané saiki aku wani sesumbar…kiyèh sing arané Waslam…bekas jegèr nang komplek pelacuran Rawabangke…Heeeeiiii !!…kowen padha krungu apa ora…??? Hahahahahaaaaa….”

        Kurang luwih wis setengah jam Waslam nang nang puncité Tugu Monas. Geni emas sing murub sangsaya mencorong kenang srengéngé awan. Waslam sing wuda klambi mung nganggo clana lepis sing wis rodhal-radhil, persis kaya kethek Anoman pan manjing geni nang crita Ramayana. Waslam wis rada kesel jerat-jerit dhèwèkan nang puncit Monas.Ujug-ujug dhèwèké krungu suwara lamat-lamat. Waslam milang-miling nggolèti asalé suwara sing keprungu sangsaya cetha.

        “KangWaslaaaaam…Kaaaaang….KangWaslaaaam..Sampéyan lagi apa nang ndhuwur kaya kuwe ?” Waslam kagèt krungu suwara bocah madon sing ora liya adhiné dhèwèk si Tarini. Waslam lingak linguk nggoleti pernahé suwara mau.

        “Niiiiii…Tariniiiiii..!! Kowen lagi nang endi ? Nyong ora weruh.” Ngomong kaya kuwé Waslam karo clingukan,  tèsih durung weruh nang endi asal suwarané Tarini. “ Enyong nang kéné Kang. Sampèyan madhep ngulon gèn. Kiyèh lagi ngepé kumbahan nang lotèng. Nang umahé majikan…” Tarini ngomong maning.Waslam madhep mengulon.Akh,bener. Nang antarané gendhèng-gendhèng umah sing dhuwur-dhuwur, Waslam weruh adhiné lagi lagi ngepé kumbahan nang loteng. Waslam gèdhèg-gèdhèg karo ngomong dhèwèkan.

        “Ni, Ni. Jebulé kowen saiki wis prawan.Sapa sing ngira adhiné nyong sing mauné polar-polor,wetengé mblendhing, saiki wis dadi prawan.Kulité pancèn ireng.Cunguré ya ora mbangir.Lambéné kandel. Tapi…(Waslam mesem)… ehm..bokongé gedhé..susuné ya monthok nemen..”

        “Kang Waslam, sampéyan lagi apa nang kono.Ati-ati mbokan tiba…” suwarané Tarini sing kadohan.

        “Aja watir Niii…Aku kan lagi dadi raja…Mulané kudu nang dhuwur.Sing nang ngingsor kabèh rakyaté aku. Hahahahaaaa…” Waslam gemuyu kaku karo cekelan weteng. “Nii, priben kabaré kowen,  melu majikan kiyé ? Wongé bener apa ora ?”

“Embuh Kang, aku durung pati ngarti. Soalé nembé sawulan”

        “Mbokan majikané kowen mblunat, kowen lapor maring aku ya ? Awas..anggere majikané kowen cluthak. Sing penting angger majikan wadoné kowen ora nang umah,terus majikan lanangé kowen dhèwèkan, kowen kudu ngati-ati..”

        “Iya kang waslam, aku ngati…”

        “Terus angger bengi kowen lagi turu, aja klalén lawangé dikancing. Mbokan ana sing nothok-nothok lawang, poma aja dibuka”

        “Iya Kang”

        “Nii, kowen nang kono dibayar pira,Nok ?”

        “Dibayar 75 èwu Kang”

        “Ya wis, ora papa.Sing penting majikané ora kurang ajar,bayarané ora telat.Angger kurangajar mengko tak oncogi.  Tak khajar sisan…Aja klalèn ngirim Mané ya…?”

        “Iya Kang. Wis ya Kang, aku pan nutugna nyambet gawé”

        Waslam seneng nemen weruh adhiné lagi kerja dadi pembantu. Tetrus dhèwèké lingak linguk maning.Nyawang mengidul nang  Kebayoran , Waslam weruh akèh kuli bangunan lagi pada kerja nang proyek. Jebulé akèh kancané sing kenal. Ana si Surip, Bodong,Daman, Rosid lan sèjèn-sèjèné.Waslam undang-undang.

        “Héééé…batir-batir…kerjané mandheg dingin. Deleng méné kiyèh…Enyong Waslam, lagi dadi raja. Hahahahaaaa….”  Wong-wong sing lagi pada kerja mandheg, pada nyawang maring Tugu Monas. Weruh ana Waslam nang dhuwur, kabèh padha surak-surak karo ngawé-awé.

        “Hidup Waslam…! Hidup Waslaaaam !”

Waslam bungahé ora kira-kira. Terus gemboran maning,gemuyu ngakak dawa nemen. Tapi ujug-ujug cep,gemuyuné Waslam mandheg. Sing ngingsor Waslam krungu suwara sirine nguing nguing. Suwarané 2 mobil branwir manjing nang Jalan Merdeka Selatan Nang buriné mobil branwir nginthil mobil ambulan.Kabèh pada marek maring Tugu Monas. Suwara sirene mandheg, ganti suwara wong sing nganggo seragam abang-abang karo ngadeg nang andhané mobil, gembor-gembor nganggo megapon seru nemen.

        “Héé ! Kamu yang diatas ! Turuuun !”

        “Siapa yang dikongkon turun Pak ?”, Waslam njawab karo matané mendelik.

        “Kamu,goblok ! Kamu siapa sih, kok berani-beraninya naik Monas begitu ?”

        “Saya Was-lam. Bisané Bapak nggoblog-nggoblogin saya sih ? Bapak belum kenal saya ya ? Nih, saya yang namanya Waslam. Waslam bin Kasnan..asli wong Tegal…Hahahaaaa….”

Wong-wong sing nang ngingsor sangsaya akèh. Gemrumut kaya semut, karo padha ngomong ramé nemen.

        “Ada orang stres !! Noh,liat diatas ! Gila bener dah”

        “Hooh..gimané dié naiknyé yéh..”

        “Tauk. Gua juga heran”

Kendaraan sing kebeneran lagi liwat nang Jalan Silang,Merdeka Barat,Harmoni,Gambir,Tamrin,Duku Atas,padha mandheg kabèh. Penumpangé padha mudun,kabèh padha ndhengak ndeleng maring puncité Tugu Monas.Weruh pemandangan sing ramé kaya kuwé Waslam malah surak-surak karo gemuyu ngakak seru nemen.

        “Ah,gila tu orang.Nggak pake baju lagi”, jaré pulisi sing ndeleng mendhuwur nganggo keker.Suwasana nang ngingsor sangsaya ruwed.Mobil-mobil Pemadam Kebakaran sing  ngiteri Tugu Monas molai ngetokna andha sambungan sing dhuwur nemen. Anggota barisan kebakaran mulai munggah nang anda sing paling dhuwur. Ora let suwé ujug-ujug ana helikopter sing marek maring Tugu Monas.Weruh ana helikopter marek nang dhuwur endhasé,Waslam ndadak nyopot clana jiné.Clana sing wis rodhal-radhil di obat-abitna.Embuh maksudé apa.Helikopter sangsaya parek nang puncite Monas.Helikopter kuwé ngetokna tali nglawèr mengisor. Terus ana tentara sing mluncur nang tali. Wong-wong sing padha nang ngingsor mung nyawang kamitenggengen weruh pemandangan sing kaya kuwé. Ujug-ujug, syuuuut,mung pirang detik, Waslam disaut terus dikempit daning tentara sing nang pucuké tali.Wong-wong padha surak ramé nemen. Helikopter sing nggawa Waslam muter sepisan ngubengi Monas terus minger mengètan.Sangsaya adoh…sangsaya adoh….***

 

Slawi. 17 Oktober 1994

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sastra Tegalan Perlu Dukungan Media

Hari Sastra Tegalan yang jatuh pada tanggal 26 Nopember mendatang,akan diperingati oleh Komunitas Seniman Tegal “SORLEM’ dengan Lawatan Budaya ke Semarang (24/11) dan Surakarta (25/11).Dikedua kota tersebut beberapa seniman Tegal akan menampilkan pembacaan puisi dan monolog Tegalan, bertempat di Taman Raden Saleh Semarang dan TBS Taman Budaya Surakarta.M.HadiUtomo (69) sastrawan yang selama ini sangat getol menulis dalam bahasa Tegal mengatakan bahwa Sastra Tegalan meski usianya sudah cukup lama teapi masih membutuhkan pengakuan eksternal.”Masyarakat,pemerintah,dinas kebudayaan dan tokoh2 masyarakat perlu untuk terus menerus menginformasikan keberadaan Sastra Tegalan yang sudah berkembang cukup pesat.Bagi Hadi Utomo lawatan budaya tersebut menegaskan bahwa eksistensi seniman Tegal tetap menjunjung komitmennya untuk terus “menggelorakan”  kreatifitas sastra lokal.Sastra Tegalan kedepan harus mampu menjadi bagian dari Sastra Indonesia seperti sastra di daerah2 lain(Jawa,Sunda,Bali,Riau dll).Sastrawan tidak bisa berjuang sendiri,tetapi harus didukung oleh penerbit,media,pemerintah daerah,pers dll.

Ikut dalam lawatan budaya tersebut para penggiat Sastra Tegalan a.l.Dwi Erry Santoso,Nurhidayat Poso,Nurngudiono,Slamet Ambari,Diah Setiyawati,Bontot Sukandar,Hartono CH Surya,HM Iqbal,Ratna,Igho,Mamet Bramanti dll. (Dikutip dari Harian NIRMALA POS edisi Saptu,22 Nopember 2008)

 

 

 

 

 

Tetenger

(M.Hadi Utomo)

 

Wis dadi tetenger sing Gusti Allah

Awaké dhèwèk  :  inyong karo kowen

Dilairna nang kéné

Mbrojol sing guwagarbané embok inyong

Lan mboké kowen,  tan bisa milih

Nang tlatah saloré Gunung Slamet

Tetegalan amba nang pinggir pesisir

Segara Jawa sing ombaké ora patia dhuwur

Tetegalan amba  sing lemahé subur

Tetegalan sing mengkoné bakal dadi aran :  Tegal.

Tegalé dhèwèk…Tegalé inyong karo kowen

Sing pan tak tembangi

Sadawané wengi

Nganggo puisi

Puisi Tegalan

P r a s a s t i

M.Hadi Utomo)

 

Nang kéné,nang bumi dèsa Guci

wis tak pendhem siji prasasti

aranku sing tak ukir nang watu lintang

arané kowen sing tansah tak undang-undang

nganti dadi kemlandhang – moni saben ngimpi

 

Nang kéné,nang bumi dèsa Guci

bumi sing tansah teles

èsuk-èsuk wis adus grimis

bocah-bocah sang payungan godhong tales

tetawa jagung bakar

ana mbok tuwa ngiyub nang èmpèr kios

tetawa wortel karo godhong slada

 

Nang kéné, luhé kowen tau nètès nang gigir

kowen sing lèndhotan pedhut

sing ngawé-awé méga

nyawang umur sing semingkir alon-alon

karo ninggali pitakon

sing ora bakal tak jawab

embuh,embuh,embuh

 

Nang kéné, nang bumi dèsa Guci

ana prasasti sing wis tak pendhem

aranku

arané kowen

lebur dadi lemi

kèntir nang kali

 

(26 Januari 1998)

 

 

Nota Bene.

M.Hadi Utomo

 

(Catatan Pendek untuk L)

Ajuren bengimu sing peteng kaya langes

Ajuren dadi siji karo impènmu

Nganti pecahé  srengéngé èsuk

Aja dirèwès, mbuh ana lindhu mbuh angin lisus

Aja dirèwès , aja

Kowen lalia nang kéné, lalia nang bantalku

Nang angin sing lagi nembang

Tetembangan wengi

Karo  nyikep puisi

 

Sang Waktu

M.Hadi Utomo

 

Ngadega terus nang kono – aja mingser

Apa maning nglangkahi

ayang-ayangku

Ngadega terus nang kono – aja nganti

ora ngonangi

ana malingumur sing lagi mindhak-mindhik

arep nylius alon-alon

(akh….jebulé, sang waktu pancèn ora gelem krungu)

 

 

Surat  (1)

M.Hadi Utomo

 

dina-dina sing balapan olihé padha nyuwèk tanggalan nganti kedawan-dawan olihé aku ngrasakna dhèwèkan sepi nglangut nang lelakon kiyé – sawetara kowen ndèyan lagi molak-malik tut salembar album lawas sajeroné ayang-ayang sing samar kowen weruh potreté dhèwèk lagi kawur kanginan nglayang ngawang-awang nang jèjèré pedhut lan mega – kowen karo aku sing tau mlaku pédhangan nang sikilé langit tapi saiki kowen karo aku persasat manjing maring kitiran waktu nganti ora bisa ogèt – malah sangsaya adoh mlesat jasad-jasadé wong loro dibanting nang jurang sepi nganti suwiwiné aku lan suwiwiné kowen padha sèngklèh lan tatu sing mangap amba krasa perih ngglèthak nang kéné nang jeroné jagad sing peteng griyeng – rokhé aku karo rokhé kowen manglih kaya lebu sing nèmpèl nang gegodhongan… O, Gusti..

 

 

Surat (2)

M.Hadi Utomo

 

Kowen arep ngentèni apa maning,manisku,sawetara langit sangsaya kèrem sangsaya kèrem , dalan setapak galengan sawah wis sepi nyenyet, sandhékala wis teka bengi wis mudhun,kowen arep ngentèni apa maning,manisku,nglangkaha gagiyan dibèrèsi koper-kopermu,kowen ora susah crèwèd takon werna-werna, aku karo kowen arep maring endi maning , embuh, sebab aku karo kowen pancèn ora tau duwé umah….O, Gusti…Gusti…

Sastra Tegalan – Sebuah Gerakan Budaya

Situs Blog ini saya luncurkan untuk menyambut Hari Sastra Tegalan yang jatuh pada hari Rabu Pon, 26 Nopember 2008.

Hari ini dipilih oleh teman2 saya sastrawan/jurnalis Tegal,

untuk mengingat perjalanan Sastra Tegalan yang berawal di th.90-an dengan terbitnya (dan juga matinya)sederet  “media kesadaran “ (Sitok Srengenge,1995) KONTAK,POREM,LITERASI MUARA SASTRA dan TEGAL-TEGAL.

Koran LITERASI memang berhenti terbit pada edisi ke-5 tanggal 25 Nopember 1994.Saya tidak tahu mengapa yang diperingati adalah matinya sebuah koran. Ini sebuah ironi. Barangkali teman2 saya ingin mengatakan : Kematian adalah Awal Kehidupan Baru.Itu tidak penting.Yang penting, SastraTegalan memang selalu bergerak. Karena pada hakekatnya Sastra Tegalan adalah sebuah gerakan budaya. Gerakan kreatifitas.  Sastra Tegalan adalah komitmen untuk merawat Bahasa Ibu,sebagai warisan budaya yang sah dari Masyarakat Tegal.Sastra Tegalan adalah sebuah unjuk jati diri dan kebanggaan Sastrawan dan Jurnalis Tegal.Kalau ada Sastra Sunda,Sastra Jawa,Sastra Bali,Sastra Riau, mengapa tidak ada Sastra Tegal ?

Semoga lewat blog Dari Tegal…ini saya dapat terus mencatat “gerakan” Sastra Tegalan.